AYOJAKARTA.COM - Sistem kesehatan Indonesia memiliki ketentuan khusus mengenai 144 jenis penyakit yang tidak dapat dirujuk ke rumah sakit dan harus ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik.
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan sistem rujukan berjenjang dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.
Tujuan utama dari pembatasan ini adalah untuk memastikan bahwa layanan rumah sakit dapat fokus menangani kasus-kasus yang benar-benar memerlukan perawatan spesialis dan teknologi medis tinggi.
Baca Juga: Resmi Diumumkan! Penebalan Bansos Rp400.000 Mulai Cair untuk 18,3 Juta KPM
Daftar 144 penyakit ini mencakup berbagai kondisi medis yang umumnya dapat ditangani dengan baik di fasilitas kesehatan primer.
Mulai dari penyakit infeksi ringan, gangguan kulit, masalah pencernaan sederhana, hingga kondisi mata dan THT yang tidak kompleks.
Sebagian besar penyakit dalam daftar ini merupakan kondisi yang tidak mengancam jiwa dan dapat diatasi dengan pengobatan standar yang tersedia di puskesmas.
Kebijakan ini juga bertujuan untuk mengurangi beban rumah sakit yang sering kali overload dengan kasus-kasus yang sebenarnya dapat ditangani di tingkat primer.
Meskipun demikian, sistem ini tetap memberikan fleksibilitas dalam situasi darurat atau ketika terjadi komplikasi yang membahayakan nyawa pasien.
Dokter di fasilitas kesehatan primer tetap memiliki wewenang untuk melakukan rujukan jika kondisi pasien memburuk atau memerlukan penanganan khusus yang tidak tersedia di tempat mereka.
Implementasi kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sistem kesehatan nasional sekaligus memastikan setiap pasien mendapat perawatan yang tepat sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya.
Baca Juga: iPhone 17 Air Segera Hadir! 10 Bocoran Fitur Ini Wajib Si Paling Apple User Ketahui, Banyak Berbeda?
Daftar 144 Penyakit yang Tidak Dapat Dirujuk ke RS
1. Kejang demam (kejang pada anak akibat demam tinggi)
2. Tetanus (infeksi bakteri yang menyerang sistem saraf)
3. HIV/AIDS tanpa komplikasi (infeksi virus yang melemahkan sistem imun)
4. Tension headache (sakit kepala karena ketegangan otot)
5. Migrain (sakit kepala berdenyut yang parah)
6. Bells palsy (kelumpuhan otot wajah sementara)
7. Vertigo (sensasi berputar atau pusing)
8. Gangguan somatoform (gejala fisik tanpa penyebab medis yang jelas)
9. Insomnia (gangguan tidur)
10. Benda asing di konjungtiva (benda asing di selaput mata)
11. Konjungtivitis (peradangan selaput mata)
12. Pendarahan subkonjungtiva (pendarahan di bawah selaput mata)
13. Mata kering (kurangnya produksi air mata)
14. Blefaritis (peradangan kelopak mata)
15. Hordeolum (bisul pada kelopak mata/bintitan)
16. Trikiasis (bulu mata tumbuh ke dalam)
17. Episkleritis (peradangan lapisan luar mata)
18. Hipermetropia ringan (rabun dekat ringan)
19. Miopia ringan (rabun jauh ringan)
20. Astigmatism ringan (mata silinder ringan)
21. Presbiopia (mata tua)
22. Buta senja (kesulitan melihat dalam kondisi cahaya redup)
23. Otitis eksterna (peradangan telinga luar)
24. Otitis media akut (peradangan telinga tengah)
25. Serumen prop (kotoran telinga yang mengeras)
26. Mabuk perjalanan (motion sickness)
27. Furunkel pada hidung (bisul di hidung)
28. Rhinitis akut (pilek akut)
29. Rhinitis vasomotor (hidung tersumbat karena pembuluh darah)
30. Rhinitis alergika (pilek alergi)
31. Benda asing (benda asing dalam tubuh)
32. Epistaksis (mimisan)
33. Influenza (flu)
34. Pertussis (batuk rejan)
35. Faringitis (radang tenggorokan)
36. Tonsillitis (radang amandel)
37. Laryngitis (radang pita suara)
38. Asma bronkial (penyakit pernapasan kronis)
39. Bronkitis akut (peradangan saluran napas)
40. Pneumonia, bronkopneumonia (infeksi paru-paru)
41. Tuberkulosis paru tanpa komplikasi (TBC paru)
42. Hipertensi esensial (tekanan darah tinggi)
43. Kandidiasis mulut (infeksi jamur di mulut)
44. Ulkus mulut (luka di mulut seperti sariawan)
45. Parotitis (radang kelenjar ludah)
46. Infeksi pada umbilikus (infeksi pusar)
47. Gastritis (radang lambung)
48. Gastroenteritis (radang lambung dan usus akibat kolera, giardiasis)
49. Refluks gastroesofagus (asam lambung naik)
50. Demam tifoid (tipes)
51. Intoleransi makanan (alergi makanan)
52. Alergi makanan (reaksi alergi terhadap makanan)
53. Keracunan makanan (food poisoning)
54. Penyakit cacing tambang (infeksi cacing pada usus)
55. Strongiloidiasis (infeksi cacing strongiloid)
56. Askariasis (infeksi cacing gelang)
57. Skistosomiasis (infeksi cacing pipih)
58. Taeniasis (infeksi cacing pita)
59. Hepatitis A (radang hati karena virus A)
60. Disentri basiler, disentri amuba (diare berdarah)
61. Hemoroid grade 1/2 (wasir tingkat ringan)
62. Infeksi saluran kemih (ISK)
63. Gonore (penyakit menular seksual)
64. Pielonefritis tanpa komplikasi (infeksi ginjal ringan)
65. Fimosis (kulup yang tidak bisa ditarik)
66. Parafimosis (kulup terjepit)
67. Sindrom duh genital (keputihan abnormal)
68. Infeksi saluran kemih bagian bawah (ISK bawah)
69. Vulvitis (radang kemaluan wanita)
70. Vaginitis (radang vagina)
71. Vaginosis bakterialis (infeksi bakteri vagina)
72. Salpingitis (radang saluran telur)
73. Kehamilan normal (kehamilan sehat)
74. Aborsi spontan komplit (keguguran lengkap)
75. Anemia defisiensi besi pada kehamilan (kurang darah saat hamil)
76. Ruptur perineum tingkat 1/2 (robekan jalan lahir ringan)
77. Abses folikel rambut atau kelenjar sebaceae (bisul di folikel rambut)
78. Mastitis (radang payudara)
79. Cracked nipple (puting payudara lecet)
80. Inverted nipple (puting payudara masuk ke dalam)
81. Diabetes mellitus tipe 1 (diabetes karena kurang insulin)
82. Diabetes mellitus tipe 2 (diabetes karena resistensi insulin)
83. Hipoglikemia ringan (gula darah rendah)
84. Malnutrisi energi-protein (kurang gizi)
85. Defisiensi vitamin (kekurangan vitamin)
86. Defisiensi mineral (kekurangan mineral)
87. Displisidemia (gangguan lemak darah)
88. Hiperurisemia (asam urat tinggi)
89. Obesitas (kegemukan)
90. Anemia defisiensi besi (kurang darah karena kekurangan zat besi)
91. Limfadenitis (radang kelenjar getah bening)
92. Demam dengue, DHF (demam berdarah)
93. Malaria (penyakit akibat gigitan nyamuk anopheles)
94. Leptospirosis tanpa komplikasi (infeksi bakteri leptospira)
95. Reaksi anafilaktik (reaksi alergi berat)
96. Ulkus pada tungkai (luka di kaki)
97. Lipoma (benjolan lemak jinak)
98. Veruka vulgaris (kutil)
99. Moluskum kontagiosum (infeksi kulit virus)
100. Herpes zoster tanpa komplikasi (herpes cacar)
101. Morbili tanpa komplikasi (campak)
102. Varisela tanpa komplikasi (cacar air)
103. Herpes simpleks tanpa komplikasi (herpes simplex)
104. Impetigo (infeksi kulit bernanah)
105. Impetigo ulseratif (impetigo dengan luka)
106. Folikulitis superfisialis (radang folikel rambut)
107. Furunkel, karbunkel (bisul)
108. Eritrasma (infeksi kulit bakteri)
109. Erisipelas (infeksi kulit dalam)
110. Skrofuloderma (TBC kulit)
111. Lepra (kusta)
112. Sifilis stadium 1 dan 2 (raja singa awal)
113. Tinea kapitis (kurap kepala)
114. Tinea barbae (kurap jenggot)
115. Tinea fasialis (kurap wajah)
116. Tinea korporis (kurap badan)
117. Tinea manus (kurap tangan)
118. Tinea unguium (kurap kuku)
119. Tinea kruris (kurap selangkangan)
120. Tinea pedis (kurap kaki)
121. Pitiriasis vesikolor (panu)
122. Kandidosis mukokutan ringan (infeksi jamur kulit ringan)
123. Cutaneous larva migraine (infeksi larva di kulit)
124. Filariasis (kaki gajah)
125. Pedikulosis kapitis (kutu kepala)
126. Pedikulosis pubis (kutu kemaluan)
127. Scabies (kudis)
128. Reaksi gigitan serangga (alergi gigitan serangga)
129. Dermatitis kontak iritan (eksim karena iritasi)
130. Dermatitis atopik kecuali recalcitrant (eksim atopik)
131. Dermatitis numularis (eksim berbentuk koin)
132. Napkin eczema (ruam popok)
133. Dermatitis seboroik (ketombe parah)
134. Pitriasis rosea (penyakit kulit dengan bercak merah muda)
135. Akne vulgaris ringan (jerawat ringan)
136. Hidradenitis supuratif (radang kelenjar keringat)
137. Dermatitis perioral (eksim di sekitar mulut)
138. Miliaria (biang keringat)
139. Urtikaria akut (biduran)
140. Exanthematous drug eruption, fixed drug eruption (alergi obat)
141. Vulnus laseratum, punctum (luka robek, luka tusuk)
142. Luka bakar derajat 1 dan 2 (luka bakar ringan)
143. Kekerasan tumpul (cedera akibat benturan)
144. Kekerasan tajam (cedera akibat benda tajam).***

Share this article
Sistem kesehatan Indonesia memiliki ketentuan khusus mengenai 144 jenis penyakit yang tidak dapat dirujuk ke rumah sakit