AYOJAKARTA.COM- Demam keong atau Schitomiasis adalah penyakit menular dari manusia ke manusia yang bersifat menahun.
Dikutip ayojakarta.com dari laman sehatnegeriku.kemenkes.go.id (22/2/2023), dijelaskan bahwa penyakit ini disebabkan oleh cacing pada keong perantara yang hidup di air tawar.
Penyakit ini sering menginfeksi anak sekolah, petani juga masyarakat dengan profesi penangkap ikan.
Baca Juga: Inilah Tips Puasa Ramadan bagi Penderita Diabetes, Simak Penjelasan dari Pakar Kesehatan Berikut!
Hal yang harus diwaspadai adalah jika penyakit tersebut tertular pada anak, sebab anak yang terinfeksi penyakit ini dapat mengalami kelainan pertumbuhan dan kelemahan kognitif.
Cacing tersebut akan hidup dalam pembuluh pembuluh darah terutama kapiler darah dan vena kecil dekat selaput usus.
Berdasarkan data dari laporan Kementerian Kesehatan RI penyakit tersebut saat ini menjangkit sebanyak 200 lebih warga Sulawesi Tengah tepatnya di Kabupaten Poso dan Sigi.
Dikutip dari laman halodoc.com (22/2/2023), dr. Rizal Fadli menjelaskan beberapa fakta terkait penyakit demam keong ini.
1. Penyakit parasit paling mematikan kedua setelah malaria
Penyakit demam keong ini banyak menjangkit masyarakat yang hidup pada negara-negara tropis, seperti Afrika, beberapa bagian Amerika Selatan, dan Asia.
Sayangnya penyakit tersebut menjadi penyakit tropis terabaikan (NTD), padahal jika dibiarkan terjangkit penyakit ini, cacing parasit yang hidup di dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan beberapa organ seperti seperti kandung kemih, ginjal dan hati.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dari segi dampak, penyakit ini menempati urutan kedua setelah malaria sebagai penyakit parasit yang paling mematikan.
Baca Juga: Heboh! Pandemi Virus Covid-19 Sudah Diprediksi Sejak Tahun 1956, Benarkah?
2. Menular melalui air yang terkontaminasi
Penyakit ini menjangkit melalui tiga jenis cacing darah dari genus schistosoma yang sering menginfeksi manusia yakni Schistosoma mansoni, S. haematobium, dan S. japonicum.
Saat cacing tersebut masih menjadi larva maka akan bisa menginfeksi dengan cara menembus kulit manusia.
Larva yang berkembang di dalam tubuh manusia menjadi cacing dapat menyebar ke urine, feses yang mengandung telur cacing dan kemudian dikeluarkan oleh si pengidap demam keong.
Kebiasaan masyarakat mandi dan berenang langsung di air tawar seperti seperti sungai, danau, waduk, atau kolam dapat menyebabkan terinfeksi penyakit ini.
Selain itu bersentuhan langsung dengan air yang tercemar seperti saat bermain air, juga bisa menyebabkan kamu tertular penyakit ini.
Kendati demikian, cacing tersebut tidak ditemukan di laut atau kolam renang yang mengandung klorin.
3. Gejala yang perlu kamu waspadai
Baca Juga: Ramadan Sebentar Lagi, Berikut 6 Tips Menjaga Kesehatan yang Harus Kamu Tahu
Beberapa gejala dari penyakit ini memang tidak tampak pada awal terinfeksi.
Namun beberapa hal yang bisa ditandai adalah terjadinya ruam dan gatal kulit beberapa hari setelah terinfeksi.
Gejala lanjutan akan dirasakan oleh para penderita berupa:
- Demam.
- Panas dingin.
- Batuk.
- Nyeri otot dan nyeri
Bila tidak diobati dalam waktu lama, gejala bisa berkembang menjadi lebih parah, seperti:
- Sakit perut.
- Pembesaran hati (hepatomegali).
- Darah dalam urine yang juga disebut hematuria.
- Kesulitan atau nyeri saat buang air kecil (disuria).
- Darah dalam feses (kotoran) atau disebut juga hematochezia.
- Keguguran.
Schistosomiasis kronis (tahan lama) bisa memperparah keadaan penderita karena akan lebih mungkin mengembangkan bekas luka pada hati atau kanker kandung kemih.
Baca Juga: Puasa Ramadan Bagi Penderita Maag dan GERD, Berikut Tips dari Pakar Kesehatan
Selain itu dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, telur bisa menyebar ke otak atau sumsum tulang belakang.
Apabila hal itu terjadi, pengidap bisa mengalami kejang, lumpuh, atau radang sumsum tulang belakang.
4. Pengobatan demam keong
Penyakit demam keong ini merupakan penyakit yang menjadi momok yang menakutkan.
Namun bukan berarti penyakit ini tidak dapat disembuhkan, jika terinfeksi penyakit ini dokter akan memberikan obat cacing resep bernama praziquantel.
Obat ini akan dokter berikan dalam bentuk pil dan biasanya untuk satu hari saja.
Namun para pengidap demam keong harus mengulangi beberapa minggu setelah dosis pertama karena obat tersebut akan efektif jika cacing tumbuh sedikit lebih besar.
5. Cara mencegah demam keong
Baca Juga: GERD dan Maag Beda, Inilah Perbedaan yang Jarang diketahui!
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit demam keong ini adalah dengan cara hindarilah beraktivitas di kolam, danau atau sungai air tawar di daerah yang mungkin memiliki siput dan parasit penyebab schistosomiasis.
Selain itu hindari hindari untuk mengkonsumsi air mentah dan pastikan untuk merebus air untuk minum tersebut.
Cara terbaik untuk mencegah tersebut harus dilakukan karena hingga saat ini belum ada vaksin yang ditemukan untuk mengatasi penyakit tersebut.
Demikianlah beberapa fakta terkait penyakit demam keong yang saat ini telah menginfeksi lebih dari 200 orang di wilayah Sulawesi Tengah. ***)

Share this article
Demam keong atau Schitomiasis merupakan penyakit menular dari manusia dan bersifar menahun. Lantas bagaimana cara penanganannya?