AYOJAKARTA.COM – Diprediksi tahun 2023 suku bunga USD akan semakin naik hingga menyentuh angka 5%.
Bank Central Amerika atau yang lebih dikenal dengan Federal Reserve (FED) memiliki kebijakan yang membuat suku bunga USD naik secara agrasif.
Dengan naiknya suku bunga USD otomatis akan berpengaruh kepada suku bunga negara lain yang juga akan naik.
Pada tanggal 19 November 2022 angka USD sudah mencapai 15.688 rupiah. Dollar sudah sempat menyentuh angka 16.000 rupiah pada saat awal pandemi yaitu Maret 2020.
Dilansir AyoJakarta.com dari akun Twitter @Strategi_Bisnis, angka 16.000 akan dites ulang oleh rupiah pada tahun 2023 atau yang disebut juga dengan retest menurut jargon chart analysis.
Baca Juga: Simak di Sini! Link Live Streaming Piala Dunia FIFA 2022 Lengkap dengan Jadwal Pertandingannya
Retest dalam hal ini berarti pengujian ulang zona harga yang sebelumnya sudah pernah dicapai.
Semua mata uang dunia sedang berada pada posisi tidak stabil melawan USD yang dikarenakan kenaikan suku bunganya.
Sudah sejak bulan April nilai USD terus melonjak naik yang mengakibatkan poundsterling UK, euro, dan yen mengalami anjlok cukup parah.
Rupiah juga terkena imbasnya tapi masih bisa tertolong oleh kenaikan harga-harga komoditas seperti batu bara dan timah.
Surplus perdagangan yang didapat Indonesia dari kenaikan harga seperti batu bara dan timah dapat sangat membantu kekuatan nilai rupiah.
Baca Juga: Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2022 Qatar, Jungkook BTS Isi Pesta Pembukaan
Jika kenaikan suku bunga USD sampai membuat lemah nilai rupiah maka ini akan memberatkan masyarakat.
Tentu barang-barang impor akan mengalami kenaikan harga seperti barang elektronik dan kendaraan.
Tidak hanya barang-barang tersebut yang kita datangkan dari luar negeri. Bahkan 90% kedelai yang kita konsumsi merupakan hasil dari impor.
Untuk mencegah melemahnya nilai rupiah atau bahkan jatuhnya nilai rupiah dapat dicegah oleh Bank Indonesia (BI) dengan cara menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Baca Juga: 4 Fakta Perceraian Dedi Mulyadi hingga Curiga Orang Ketiga: Guru Ngaji Hasut Anne Ratna Mustika
Jika pada tahun depan suku bunga FED berada pada angka 5% maka suku bunga rupiah harus mencapai 6% atau paling tidak 5,5%.
Namun kebijakan ini adalah tindakan yang dilematis. Ini akan menyelamatkan nilai rupiah tapi menurunkan laju ekonomi.
Kabar buruknya, harga komoditi seperti batu bara dan timah akan menurun pada tahun depan karena adanya ancaman resesi ekonomi global.
Jika harga-jarga komoditi tersebut turun maka otomatis ekspor Indonesia akan turun juga dan akan memberi tekanan kepada kekuatan nilai rupiah.
Baca Juga: MU Punya Hak untuk Menggugat Cristiano Ronaldo, Ini Alasannya
Dari domino effect yang disebabkan oleh naiknya suku bunga USD memang terdapat banyak kerugian, tetapi ada juga keutungan yang bisa didapat.
Keuntungan yang bisa didapat jika suku bunga USD naik adalah bisa menguntungkan bagi orang-orang yang memiliki deposito dalam bentuk dollar.
Reksana dollar akan semakin laku karena lebih menguntungkan. Juga tentunya akan menguntungkan warga Indonesia yang penghasilannya dalam bentuk dollar.***

Share this article
Bank Central Amerika atau yang lebih dikenal dengan Federal Reserve (FED) memiliki kebijakan yang membuat suku bunga USD naik.