AYO BACA : Pemerintah Siapkan Tes Massal COVID-19, Yuri: Bisa Dapatkan Cukup Banyak Kasus PositifAYO BACA : 9 Positif dan 6 PDP Corona Masih Dirawat di RSPI Sulianti Suroso
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Anjuran belajar di rumah untuk membatasi penularan Covid-19 ternyata memiliki beban tersendiri bagi siswa yang menjalankannya. Mulai dari kuota internet yang cepat habis, hingga tensi darah naik tinggi karena terlalu banyak tugas dari guru. Mendengar aduan tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepada tenaga pendidik untuk tidak fokus dalam memberikan tugas online saja.
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, guru semeskinya lebih mengedepankan interaksi antara guru dan siswa sebagaimana kegiatan sekolah pada biasanya.
Retno menceritakan, keluhan yang ia terima dari salah satunya yakni ada yang mengeluh teman-temannya kerap datang ke rumahnya lantaran tidak memiliki cukup kuota untuk mendengarkan pembelajaran dari guru. Oleh karena itu, kebijakan social distance atau berjaga jarak pun tidak terealisasi karena siswa-siswa memilih untuk berkumpul dengan masalah kuota serta akses internet.
Lain halnya keluhan yang disampaikan seorang siswa SMA di Kuningan, Jawa Barat kepada KPAI. Pelajar yang duduk di kelas 10 itu mengaku tensi darahnya naik karena menerima banyak tugas lewat telepon genggam. Ia mengeluh karena tugas yang diberikan secara online lebih banyak daripada sekolah pada biasanya.
"Sejak belajar di rumah tugasnya melebihi seperti sekolah, sampai tensi saya naik pak, bu 180/100, padahal usia saya masih 16 tahun, tapi anak seeumuran saya sudah kena darah tinggi, tensi saya naik karena saya menghadap ke telepon genggam terus selama berjama-jam untuk mengerjakan tugas-tugas”, cerita siswa tersebut lewat keterangan resmi KPAI, Kamis (19/3/2020).
Mendengar beragam aduan tersebut, KPAI meminta kepada para pemangku kepentingan di pendidikan agar membangun rambu-rambu bagi para guru sehingga proses home learning ini bisa berjalan dengan menyenangkan dan bermakna buat semua, bukan jadi beban yang justru tidak berpihak pada anak, bahkan bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya.
"Selama para siswa di rumah, jangan terlalu bebani dengan tumpukan tugas yang sangat banyak. Hal demikian hanya membuat mereka cemas dan terbebani, yang berpengaruh pada melemahnya sistem imun, yang berdampak pada mudahnya serangan virus," ujar Retno.
Retno mengungkapkan bahwa sebaiknya belajar secara online itu bisa dimanfaatkan tenaga pengajar sebagai kesempatan menumbuhkan rasa ingin tahu anak, memotivasi, mempererat hubungan dan saling membahagiakan.
Dengan kondisi wabah virus Corona (Covid-19) tengah menyerang seperti sekarang ini, kompetensi akademik bukanlah menjadi prioritas lagi. Justru yang menjadi prioritas ialah kompetensi untuk bertahan hidup dan saling mengingatkan agar selalu menjaga kebersihan diri serta lingkungan.
Pengadu lainnya juga sempat menyampaikan kalau sang anak sudah berada di depan laptop mulai pukul 06.00 WIB untuk menuruti perintah gurunya yang akan memberikan tugas pada pukul tersebut. Bukan hanya satu tugas, guru-guru lainnya pun memberikan tugas yang berbeda dengan waktu pengerjaan yang singkat.
Alhasil sang anak pun baru bisa makan pada siang harinya. Pengadu khawatir karena teknik semacam itu malah menurunkan imun sang anak gara-gara lelah dan telat makan.
Kata Retno, kebijakan Home Learning dan Online Learning yang ditetapkan itu justru diharapkan bisa memindahkan interaksi di sekolah ke rumah. Artinya para guru sedianya bisa melakukan interaksi dengan siswa seperti biasa.
AYO BACA : Lembaga Dunia Galang Dana hingga Rp 685 M untuk Tangani Corona
Share this article
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Anjuran belajar di rumah untuk membatasi penularan Covid-19 ternyata memiliki beban tersendiri bagi siswa yang menjalankannya. Mulai dari kuota internet yang cepat habis, hingga tensi darah naik tinggi karena terlalu banyak tugas dari guru. Mendengar aduan tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepada tenaga pendidik untuk tidak fokus dalam memberikan tugas online saja. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, guru semeskinya lebih mengedepankan interaksi antara guru dan siswa sebagaimana kegiatan sekolah pada biasanya.