JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Sebanyak 10 ribu masker untuk warga Wuhan, Provinsi Hubei, China, diserahkan secara simbolis oleh Kelompok Studi Merah Putih dalam acara "Spirit for Wuhan; Bersatu untuk Kemanusiaan".
"Bantuan ini adalah hasil gotong royong dari banyak pihak," kata Ketua Kelompok Studi Merah Putih, Yayan Sopyani Al Hadi, di tengah acara yang dihadiri ratusan orang, di Golf Island, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Jumat (21/2/2020) malam.
Yayan menjelaskan bahwa Kelompok Studi Merah Putih merupakan lembaga kajian yang berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, di bawah arahan Dewan Pembina, Maruarar Sirait. Lembaga ini diisi para aktivis lintas organisasi dengan latarbelakang suku dan agama yang berbeda-beda. Menurut Yayan, para aktivis dipersatukan oleh komitmen menjaga NKRI.
Terkait virus Corona, Yayan menjelaskan bahwa wabah itu sudah menjadi persoalan kemanusiaan global, bukan semata masalah China belaka. Musibah kemanusiaan harus menjadi momentum untuk menghidupkan lagi nilai-nilai kemanusiaan.
Yayan mengajak semua orang, tanpa pandang latarbelakang, menunjukkan kepedulian atas persoalan ini. Sekaligus, untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan terus hidup dalam setiap jiwa penghuni bumi.
"Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa nasionalisme itu bukanlah nasionalisme picik yang menjelma menjadi chauvinistik atau hanya peduli dan bahkan egois atas nama kebangsaan sendiri," tegasnya.
Yayan berpendapat, dalam konteks menghadapi wabah global ini, nasionalisme harus membuka dirinya terhadap prinsip kemanusiaan. Nasionalisme harus mengarah pada penghargaan terhadap manusia yang bermartabat. Nasionalisme menjadi kesempatan memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan secara universal.
Mantan wartawan ini menambahkan, hubungan Indonesia dengan Tiongkok sudah terjalin sejak lama. Bahkan berabad-abad lamanya hubungan Tiongkok dengan Nusantara begitu erat. Etnis Tionghoa yang memilih menjadi WNI pun sudah menjadi bagian dalam ke-Indonesia-an sendiri. Jika menilik sejarah, ada empat orang dari etnis Tionghoa yang menjadi anggota Sidang BUPKI saat Indonesia menjelang kemerdekaannya.
"Mereka adalah para pendiri bangsa juga. Mereka adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw dan Tan Eng Hoa," jelas Yayan.
Share this article
Musibah kemanusiaan harus menjadi momentum untuk menghidupkan lagi nilai-nilai kemanusiaan.