AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Indonesia terus memacu transisi energi bersih melalui bensin bioetanol.
Pilihan kini jatuh pada teknologi bioetanol generasi kedua (G2). Inovasi ini digadang-gadang menjadi jawaban atas kritik ketahanan pangan yang membayangi bioetanol generasi pertama.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan potensi hulu Indonesia sangat melimpah.
Salah satunya berasal dari limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang mencapai 50 juta ton per tahun.
Potensi jumbo ini diklaim mampu memproduksi hingga 1,6 juta ton bioetanol ramah lingkungan tanpa menguras stok tebu atau jagung nasional.
Keunggulan Strategis Bioetanol Generasi Kedua
Teknologi bioetanol G2 menawarkan sejumlah keunggulan mutlak bagi ekosistem energi domestik:
- Bebas Konflik Pangan: Menggunakan limbah biomassa dan tanaman non-pangan, bukan komoditas konsumsi.
- Optimalisasi Sumber Daya Lokal: Memanfaatkan molases tebu, sorgum, hingga limbah sawit yang tersebar di berbagai pulau.
- Mendukung Swasembada Energi: Membantu mengejar target kapasitas produksi nasional sebesar 1,28 juta kiloliter pada tahun 2030.
- Efisiensi Ekonomi Sirkular: Mengubah sisa hasil pertanian yang tidak terpakai menjadi produk bernilai jual tinggi.
Guna mempercepat hilirisasi ini, pemerintah bersama Pertamina dan Toyota membangun proyek percontohan terintegrasi di Lampung.
Proyek ini bahkan memanfaatkan teknologi reaktor canggih untuk memisahkan lignin agar konversi energi lebih efisien.
Terganjal Tekanan Kurs Dolar AS
Meski unggul secara konsep, komersialisasi bioetanol G2 di Indonesia masih menghadapi jalan terjal.
Sektor hulu saat ini sangat rapuh terhadap dinamika ekonomi global, terutama fluktuasi nilai tukar rupiah.
Formulasi harga bioetanol nasional masih sangat bergantung pada mata uang asing.
Komponen biaya konversi bahan baku dipatok sebesar USD 0,25 per liter. Akibatnya, saat rupiah melemah ke level Rp17.286 per dolar AS, biaya konversi otomatis membengkak hingga Rp4.225 per liter.
Kondisi ini memicu rantai masalah baru di tingkat hilir. Ketidakstabilan kurs menimbulkan banyak biaya tersembunyi (hidden cost).
Dampak langsungnya terlihat pada lonjakan Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol yang sempat menyentuh Rp8.062 per liter.
Jika tantangan biaya konversi ini tidak segera diatasi lewat efisiensi teknologi lokal, beban fiskal APBN diproyeksi akan semakin berat.
Pemerintah perlu menyeimbangkan regulasi insentif agar harga bensin bioetanol tetap kompetitif bagi masyarakat.***
Share this article
Bioetanol G2 dari limbah sawit (TKKS) jadi solusi swasembada energi tanpa konflik pangan. Namun, proyek hulu di Lampung terancam lonjakan biaya konversi akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS.