AYOJAKARTA.COM - Bangsa Indonesia dikenal luas dengan kekayaan budayanya yang mendalam termasuk tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu momen tahunan yang paling dinantikan masyarakat Indonesia khususnya umat Islam adalah tradisi mudik atau pulang kampung.
Biasanya, tradisi ini berlangsung menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Bagi para perantau yang bekerja di luar kota serta mereka yang menimba ilmu di tempat yang jauh dari kampung halaman, momen mudik adalah kesempatan istimewa untuk kembali ke pangkuan keluarga.
Baca Juga: Habib Jafar, Ajak Semua Memiliki Sensitivitas dengan Hindari 2 Pertanyaan Ini Saat Lebaran
Meskipun harus menempuh perjalanan jauh dan terkadang berdesakan di berbagai moda transportasi, mereka rela demi menyatukan hati dengan keluarga tercinta dan sanak saudara.
Tradisi mudik bukan hanya sekadar pulang kampung tapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia seperti gotong royong, kekeluargaan dan saling menghormati.
Hal ini sebagaimana dikutip Ayojakarta.com dari laman resmi NU Online, Sabtu (06/04/2024).
Momen mudik lebaran menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa sehingga melupakan serta rasa cinta kasih antar sesama semakin kuat.
Baca Juga: Zakat Fitrah untuk Tokoh Agama Apakah Dibolehkan? Ini Penjelasan Berdasarkan Fiqih
Rindu akan kampung halaman atau tanah kelahiran adalah perasaan yang wajar dan manusiawi.
Bahkan, Rasulullah SAW pernah merasakan rindu pada kota kelahirannya, Makkah.
Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim dan Imam At-Tirmidzi menggambarkan betapa dalamnya cinta beliau pada tanah kelahirannya yang terpaksa ditinggalkan karena tekanan dan penganiayaan.
Mudik bukan sekadar perjalanan fisik tapi juga merupakan perjalanan spiritual yang penuh kenikmatan rohani.
Baca Juga: Ketupat Lebaran, Begini Asal Usul dan Maknanya, Bukan Sekedar Kuliner Biasa Tetapi Sangat Spiritual
Profesor Quraish Shihab menyebutkan bahwa kelezatan rohani mudik terletak pada silaturahmi.
"Seorang yang ini berpayah-payah ke kampung halaman, rugi dari segi biaya, bercapek-capek di jalan. Tetapi ia merasakan kebahagiaan, ia merasakan kelezatan. Itu bisa jadi kelezatan rohani," ungkap Profesor Quraish Shihab dalam Kultum Mudik Silaturahmi.
"Sehingga banyak orang yang merasa senang dan berbahagia ketika mudik dan silaturahim, karena memang kelezatan ruh antara lain: bersilaturahim, bertemu dengan handai tolan, dan kerabat," lanjutnya.***

Share this article
Nilai di balik mudik ke kampung halaman, pererat silaturahmi serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.