AYOJAKARTA.COM – Berdasarkan informasi dari BMKG, jelang hari raya Idul Fitri lebih tepatnya pada tanggal 20 April 2023 bakal terjadi gerhana matahari di sebagian wilayah di Indonesia.
Gerhana matahari bukan hanya fenomena yang menarik dalam keilmuan astronomi, namun juga ada makna sendiri dalam Islam.
Melalui adanya fenomena gerhana matahari ini, maka umat muslim dapat melihat adanya kebesaran Allah SWT yang tiada tara sebagaimana tertuang dalam QS Fushilat ayat 37.
Baca Juga: Ini 10 Amalan Sunnah Di Bulan Ramadan Pahalanya Berkali-kali Lipat Dibanding Hari Lainnya, Apa Saja?
“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya.”
Berdasarkan ayat tersebut, gerhana matahari maupun bulan adalah bentuk kebesaran Allah SWT dan sebagai pengingat tentang seberapa besar akan kekuasaan Allah SWT yang tidak terhingga.
Jika terjadi gerhana baik itu gerhana matahari atau gerhana bulan, maka umat muslim disunahkan untuk salat gerhana. Lantas bagaimana niat dan tata cara salatnya?
Baca Juga: Vonis Anak AG Akan Digelar 10 April 2023, Kuasa Hukum David Minta Majelis Hakim Lakukan Hal Ini
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah menjelaskan terkait niat dan tata cara salat gerhana matahari.
“Salat gerhana matahari adalah sunah yang sangat dikukuhkan, dan bacaannya seperti halnya kita salat istisqa dikeraskan,” ujar Buya Yahya dikutip AyoJakarta.com melalui YouTube BUYA YAHYA, Senin (10/4/2023).
Menurut pengasuh LPD ini, ada 3 cara dalam melakukan salat gerhana matahari ini, yakni sebagai berikut.
1. 2 rakaat dengan 4 ruku, baru khotbah
Caranya adalah pada rakaat pertama membaca surah Al Fatihah, membaca surah lalu ruku kemudian berdiri lagi.
Baca Juga: Link Pengumuman Kelulusan Pasca Sanggah PPPK Guru 2022 Hari Ini, Peserta Wajib Isi Data Ini!
Setelah itu membaca Al Fatihah dan surah kembali baru kemudian ruku dan sujud. Dan melakukan hal yang sama untuk rakaat kedua. Setelah itu barulah khotbah.
2. 2 rakaat seperti salat biasa
Cara yang kedua menjalankan salat gerhana matahari seperti salat istisqa 2 rakaat baru kemudian melakukan khotbah.
3. Salat gerhana di rumah masing-masing tanpa khotbah
Melakukan salat gerhana yang sebelumnya diawali dengan niat baru kemudian menjalankan salat gerhana di rumah masing-masing. Untuk cara yang ketiga ini menurut Buya Yahya agar jangan sampai dilewatkan.
Baca Juga: VIRAL Staf Kemenkeu Bantah Tudingan Bawa Debt Collector ke Rumah Soimah: Tidak Mungkin!
Adapun niat salat gerhana matahari adalah sebagai berikut.
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal khusuf rak'ataini imaman/makmuman lillahi ta'ala.
Artinya:
"Saya niat salat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT".
Baca Juga: PENTING! 5 Amalan yang Bisa Dilakukan di 10 Malam Terakhir Ramadan, Lakukan Agar Pahala Berlipat!
Menurut Buya Yahya, waktu mengerjakan salat gerhana matahari ini bisa di awal, di pertengahan maupun di akhir sebelum matahari utuh.
“Kalau takbiratul ihram masih gerhana setelah itu bersih kembali utuh (matahari) tetap boleh, yang penting ketika takbiratul ihram gerhana masih ada sampai total kembali,” ujarnya.
“Jika ada gerhana matahari dan gerhana bulan, jangan sampai di antara kita yang ketinggalan salat ini, salatnya niatnya begini saja nggak usah bahasa arab. Saya niat salat gerhana ya Allah, Allahu akbar,” imbuhnya.
Penceramah kondang ini menyebutkan bahwa jika tidak sempat ke untuk salat gerhana berjamaah bisa dikerjakan sendiri di rumah.***

Share this article
Gerhana matahari bukan hanya fenomena yang menarik dalam keilmuan astronomi, namun juga ada makna sendiri dalam Islam.