AYOJAKARTA.COM - Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan adanya temuan kasus gagal ginjal akut misterius.
Salah satunya ditemui di DKI Jakarta, gagal ginjal akut tersebar dari berbagai wilayah yang ada.
Menurut Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan, ada perkembangan jumlah kasus Acute Kidney Injury Unknown Origin (AKIUO) atau kasus gagal ginjal akut misterius di DKI Jakarta.
Dilaporkan, hingga Rabu (26/10/2022) pukul 10.00 WIB, terhimpun sekitar 111 kasus terduga AKIUO.
Dia menambahkan, data itu didapati oleh DKI setelah menyisir semua rumah sakit di DKI atas instruksi Kementerian Kesehatan pada 1 Agustus 2022 lalu.
“Data yang diambil hanya diagnosis ICD X N.17.9 dan N.19 sesuai poin 7 surat edaran Kadinkes DKI,” ungkap Ngabila kepada awak media, Rabu (26/10/2022).
Ngabila mengatakan, dari 111 kasus itu, hanya sekitar 72 pasien (65 persen) yang tinggal di Jakarta. Menurutnya, kasus yang ada di DKI umunya berasal dari Jawa Barat sekitar 22 pasien (20 persen) Banten 15 kasus (13 persen) sisanya dari Jawa Timur dan Riau.
Baca Juga: Film Horor Qodrat: Pemain, Jadwal, dan Harga Tiket
Sementara itu, tempat perawatan mayoritas yang digunakan, kata dia, ada di RS Vertikal sekitar 84 atau 80 persen kasus.
Dari kasus tersebut sekitar 56 orang atau 50 persen, meninggal dunia. Sementara pasien dalam perawatan 23 ada kasus atau 21 persen dan sudah sembuh sekitar 32 orang atau 29 persen.
“Dinkes DKI memastikan tidak ada data ganda pencatatan,” ujar dia.
Ngabila mengatakan, dari 33 kasus atau 30 persen kasus gangguan ginjal akut diderita anak usia 5-18 tahun. Jumlah tersebut belum termasuk delapan kasus atau tujuh persen usia empat tahun.
“Sembilan kasus atau delapan persen usia tiga tahun,” katanya.
Tercatat, Pasien anak usia dua tahun, ada 12 kasus dengan persentase 11 persen. Sedangkan usia satu tahun terdiri atas 26 kasus atau 23 persen dan usia nol tahun ada 23 kasus atau 21 persen.

Share this article
Terdeteksi gagal ginjal akut misteriusa, 56 orang atau 50 persen, meninggal dunia. Sementara pasien dalam perawatan 23 kasus atau 21 persen.