AYOJAKARTA.COM - Program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi salah satu progra, prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kerap disebut sebagai terobosan baru dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Namun, jika menilik ke belakang, Indonesia ternyata pernah memiliki program serupa di era Presiden ke 2 RI Soeharto yang dikenal dengan nama PMT-AS atau Program Makanan Tambahan Anak Sekolah.
Lalu, apa perbedaan antara PMT-AS di era Orde Baru dan MBG yang sedang digulirkan saat ini?
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Bisnis, PNM Donasikan Rp 1 Miliar untuk Masyarakat Aceh di Rakernas 2026
PMT-AS di Era Soeharto
PMT-AS mulai dikenal luas pada dekade 1990-an sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan status gizi anak usia sekolah dasar.
Program ini fokus pada pemberian makanan tambahan kepada siswa SD, terutama di daerah dengan tingkat kerawanan gizi dan ekonomi rendah.
PMT-AS ini diluncurkan sejak era 1970-1990 an yang merupakan bagian dari kebijakan kesehatan dan pendidikan.
Tujuan utama PMT-AS adalah membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah agar tumbuh kembangnya optimal serta mendukung konsentrasi dan prestasi belajar.
Makanan yang diberikan umumnya berupa kudapan atau makanan tambahan sederhana bukan makanan penuh.
Namun, makanan tambahan yang diberikan memiliki kandungan kalori dan protein tertentu, disesuaikan dengan standar gizi saat itu.
Porsi PMT-AS ini dalam bentuk kecil bergizi seperti biskuit, susu dan pangan lokal
Pelaksanaan PMT-AS melibatkan sekolah dan puskesmas.
Baca Juga: Iklim Usaha Makin Memburuk, Kriminalisasi dan Ketidakpastian Hukum Jadi Sorotan
Namun, cakupannya relatif terbatas dan belum merata di seluruh wilayah Indonesia.
MBG di Era Prabowo Subianto
Sedangkan, rogram makan bergizi gratis (MBG) di era Prabowo Subianto dirancang dengan cakupan yang lebih luas.
Program ini tidak hanya menyasar siswa sekolah dasar, tetapi juga diperluas ibu hamil/ menyussui dan balita.
Baca Juga: BTN Dorong ESG Lewat Pembiayaan Rumah Rendah Emisi hingga 20.000 Unit
Bahkan kini pemerintah telah menyiapkan program MBG ini akan menyasar ke lansia dan penyandang disabilitas.
MBG dirancang sebagai program nasional berskala besar dengan target jutaan penerima manfaat.
Program ini bukan sekadar pemberian makanan tambahan, tapi penyediaan menu lengkap bergizi yang memenuhi standar nutrisi harian.
Selain fokus pada gizi, MBG juga diproyeksikan berdampak pada penguatan ekonomi lokal.
Penyediaan bahan pangan diharapkan melibatkan para petani, peternak, dan pelaku UMKM setempat.
Langkah ini diambil sekaligus menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Dari penjelasan di atas, kesimpulan yang bisa diambil terkait PMT-AS dan MBG sangatlah berbeda.
Mulai dari cakupan sasaran, skala program, konsep penyajian makanan, dan dampak ekonomi.***

Share this article
Sebelum ada MBG, ternyata Indonesia pernah memiliki program serupa di era Presiden ke 2 RI Soeharto.