AYOJAKARTA.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan memicu kekhawatiran akan ketahanan energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah jenis Brent tercatat mencapai US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$113,25 per barel.
Lonjakan ini menjadi yang tertinggi sejak 2022. Situasi semakin diperparah dengan potensi gangguan distribusi energi global akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Jika konflik berlanjut dan jalur tersebut mengalami blokade, pasokan minyak internasional berisiko mengalami kelangkaan yang dapat mendorong harga semakin tinggi.
Meski demikian, pemerintah Indonesia memastikan kondisi pasokan energi nasional masih relatif aman.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Menurutnya, rata-rata harga minyak dunia masih berada dalam batas yang dapat ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah juga akan terus memantau perkembangan harga energi global dalam beberapa minggu ke depan sebelum mengambil kebijakan lanjutan.
Hal serupa disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.
Ia memastikan pasokan BBM nasional tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk selama periode Ramadan dan Idul Fitri.
Pemerintah juga menegaskan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tidak akan dinaikkan meskipun harga minyak dunia melonjak.
Di tengah kekhawatiran krisis energi global, perhatian publik justru tertuju pada inovasi bahan bakar alternatif buatan anak bangsa, yaitu Bobibos.
Bobibos merupakan bahan bakar nabati yang dikembangkan dari limbah pertanian berupa jerami.
Inovasi ini diklaim mampu digunakan pada kendaraan berbahan bakar bensin maupun solar serta memiliki emisi yang lebih ramah lingkungan.
Melalui unggahan Instagram story pada 9 Maret 2026, pihak Bobibos memberi sinyal akan segera menghadirkan pembaruan penting.
Dalam unggahan tersebut, mereka menuliskan bahwa akan ada “update yang ditunggu-tunggu” dalam waktu dekat.
Kehadiran Bobibos di tengah ancaman krisis BBM memang sudah tengah dinantikan warganet.
Banyak pengguna media sosial berharap Bobibos dapat menjadi solusi alternatif di tengah potensi krisis energi akibat konflik global.
Sebelumnya, uji coba penggunaan Bobibos pada kendaraan bermotor pada 2025 disebut menunjukkan hasil positif.
Namun hingga kini pengembangannya masih terkendala regulasi sehingga belum diproduksi secara komersial di Indonesia.
Anggota DPR RI sekaligus Dewan Pembina Bobibos, Mulyadi, menilai kondisi geopolitik global saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi alternatif berbasis sumber daya domestik.
Jika inovasi seperti Bobibos dapat dikembangkan secara serius, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional di masa depan.***

Share this article
Ketegangan global picu lonjakan harga minyak, namun pemerintah RI pastikan BBM subsidi aman. Publik pun menanti Bobibos, inovasi BBN jerami yang terkendala regulasi, sebagai solusi mandiri energi.