AYOJAKARTA.COM - Vietnam telah memulai implementasi nasional bensin E10 selama satu bulan terakhir.
Hasilnya, konsumsi bensin ramah lingkungan ini melonjak sangat tajam. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul tantangan besar pada sisi pasokan bahan baku.
Vietnam kini menghadapi krisis kemandirian bahan baku bioetanol yang serius.
Dilansir dari laman vietnam.vn, Data dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan menunjukkan dominasi E10 di pasar.
Dari total 980 juta liter bahan bakar bioetanol yang dikonsumsi, E10 menyumbang sekitar 924 juta liter.
Angka ini setara dengan 94,29% dari total konsumsi nasional. Meskipun diminati masyarakat, sebagian besar etanol untuk campuran E10 masih harus diimpor.
Ketergantungan Impor yang Mengkhawatirkan
Saat ini, pasokan etanol bahan bakar (E100) di Vietnam sangat bergantung pada pasar luar negeri.
Produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi kurang dari 30% total permintaan nasional.
Hal ini memaksa perusahaan-perusahaan utama untuk melakukan impor secara proaktif demi menjaga stabilitas pasar.
Pada bulan Juni, total pasokan E100 mencapai hampir 122.000 meter kubik.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 89.000 meter kubik merupakan produk impor.
Ini berarti sekitar 73,3% pasokan etanol Vietnam berasal dari luar negeri.
Kondisi ini diperkirakan akan semakin memburuk pada bulan Juli. Proporsi impor diprediksi akan membengkak hingga menyentuh angka 79%.
Pabrik Domestik Belum Maksimal
Krisis ini diperparah oleh kapasitas produksi domestik yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Saat ini hanya terdapat tiga pabrik etanol utama yang aktif memasok untuk program biofuel nasional.
Pabrik-pabrik tersebut adalah Pabrik Etanol Quang Nam, Pabrik Etanol Dong Nai, dan Pabrik Biofuel Dung Quat.
Output operasional aktual dari pabrik-pabrik ini hanya sekitar 15.666 ton per bulan. Jumlah tersebut baru mencapai 67,2% dari total kapasitas desain mereka.
Selain masalah kapasitas, teknologi produksi juga menjadi kendala utama bagi industri biofuel di Vietnam. Beberapa pabrik bahkan telah berhenti beroperasi.
Potensi Singkong sebagai Solusi
Singkong memiliki potensi besar untuk menjadi solusi krisis bahan baku ini.
Selama ini, singkong merupakan bahan baku utama pembuatan etanol di Vietnam.
Para ahli percaya bahwa bensin E10 dapat mengubah singkong menjadi "tambang emas" bagi ekonomi hijau. Pengembangan ini dapat meningkatkan pendapatan petani di daerah pelosok.
Jika Vietnam mampu menguasai teknologi konversi biomassa, ketergantungan impor bisa ditekan.
Selain singkong, limbah pertanian seperti jerami dan sekam padi juga bisa diolah menjadi etanol generasi kedua.
Namun, Vietnam membutuhkan kebijakan yang kuat untuk menarik investasi kembali ke sektor produksi etanol.
Transisi energi yang berkelanjutan sangat bergantung pada sinkronisasi antara bahan baku, teknologi, dan kebijakan pemerintah.***
Share this article
Baru sebulan rilis bensin E10, konsumsi di Vietnam kuasai 94,29% pasar. Sayangnya, 73,3% pasokan etanol masih impor karena 3 pabrik lokal belum optimal akibat kendala kapasitas dan teknologi hulu.