AYOJAKARTA.COM - Sejak Gibran Rakabuming dideklarasikan sebagai kandidat cawapres Prabowo Subianto, sejumlah tanggapan negatif bermunculan.
Bukan hanya di mata pengamat, tanggapan minor terkait pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming terjadi lebih deras di media sosial.
Kurang positifnya animo publik terhadap pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming mendapat tanggapan dari pengamat politik Burhanudin Muhtadi.
Menurut Burhan, kurang positifnya anggapan publik terhadap pasangan Prabowo-Gibran bukan disebabkan persoalan personal.
Tetapi lebih karena adanya pencitraan negatif yang melekat di figur Gibran, sehingga membuatnya menjadi kurang positif di media sosial.
“Framing negatif itu berkaitan dengan isu dinasti politik, yang kedua berkaitan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi,” jelasnya.
Akibat banyaknya framing negatif di media sosial tersebut, Burhan menambahkan Prabowo ikut terkena dampak.
Kendati terdampak framing mengenai Gibran, hal tersebut belum dapat dipastikan secara faktual akan ikut berdampak besar terhadap perolehan suara Prabowo di Pilpres.
Selain karena politik merupakan hal yang sangat dinamis, dukungan dari para elit pengusung Koalisi Indonesia Maju juga berperan sangat besar.
Dengan berbekal konsistensi dukungan pada tataran elit dan massa pendukung setiap partai, perolehan suara bagi pasangan Prabowo-Gibran sudah cukup besar.
“Kalau misalnya konsisten, minimal partai pendukung Prabowo dan Gibran sudah mendapatkan angka sekitar 45 persen,” imbuhnya.
Baca Juga: Daftar ke KPU, Prabowo Subianto Beber Sederet Janji Politiknya
Selain itu, Burhan menambahkan gaya berpolitik sebagian besar masyarakat Indonesia masih sukar untuk dijadikan panduan.
Hal tersebut dikarenakan masih adanya ketidak-konsistenan antara pemimpin partai di tingkat elit dengan massa pendukungnya di tingkat akar rumput.
Dari seluruh partai pengusung Koalisi Indonesia Maju, Burhan menilai hanya Partai Gerindra yang terbilang penuh dan konsisten dalam memberikan dukungan.
“Tetapi untuk Golkar, PAN, kemudian juga Demokrat, itu relatif belum maksimal, kisaran 40 sampai 50 persen,” tambahnya.
Baca Juga: Usai Sindir Majelis Kehormatan MK Bisa Dibeli, Mahfud MD Kini Berbalik Puji Jimly Asshiddiqie
Namun demikian, Burhan memberikan apresiasi kepada Partai Demokrat yang bisa dengan cepat menunjukkan sikap move on usai bercerai dengan Koalisi Perubahan.
Sementara untuk Partai Golkar dan PAN, Burhan menilai suara di tingkat elit dengan akar rumput masih terdapat perbedaan pandangan.
Akibat dari adanya perbedaan tersebut, tidak mengherankan apabila kemudian terjadi peningkatan elektabilitas bagi pasangan Amin ataupun Gama.
Masuknya Prabowo ke dalam pemerintahan sejak tersingkir di 2019, serta masuknya Gibran sebagai cawapres, menurut Burhan akan memiliki dampak elektoral tersendiri.
“Kalau pendamping Prabowo adalah Gibran, pendukung akan mengalami kebimbangan,” pungkasnya seperti dikutip Ayojakarta pada Rabu, 25 Oktober 2023 dari Metro TV.

Share this article
Sejak Gibran Rakabuming dideklarasikan sebagai kandidat cawapres Prabowo Subianto, sejumlah tanggapan negatif bermunculan.