AYOJAKARTA.COM - Pakar Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi turut buka suara soal viralnya bahan bakar dari jerami, BOBIBOS.
Ia mengingatkan bahan bakar nabati pertama di Indonesia ini jangan dulu buru-buru untuk diedarkan.
Fahmy mengingatkan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat itu juga sempat heboh terkait BBM yang berbahan baku air.
Saat itu, BBM bertajuk 'blue energy' tersebut diklaim sebagai temuan seorang warga Nganjuk bernama Joko Suprapto.
Baca Juga: Antisipasi Banjir Rob Jakarta, Ribuan Pasukan Biru, Pompa Stasioner hingga Pintu Air Disiagakan
BBM tersebut merupakan olahan air atau hidrogen yang diurai sedemikian rupa hingga menjadi base fuel.
Ia mengingatkan jangan sampai kejadian ini terjadi lagi.
Sebab, saat itu BBM blue energy tak lebih dari 'omon-omon' semata.
Lebih lanjut, Fahmy mengatakan jika BOBIBOS belum benar-benar lolos uji jangan diedarkan lebih dulu.
Ia mengatakan jika BOBIBOS masih perlu melalui serangkaian uji sebelum benar-bener dijual secara luas.
Langkah ini dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk sebagai bahan bakar kendaraan.
Baca Juga: Cara Membuang Minyak Jelantah yang Baik dan Benar, Warga Jakarta Wajib Tahu!
Menurutnya, Kementerian ESDM dapat berpartisipasi untuk menuntaskan uji laboraturium BOBIBOS ini.
Sedangkan untuk uji lapangan bisa diserahkan kepada Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
Sebelumnya, BOBIBOS telah dirilis pada 2 November 2025.
BBM ini memiliki dua jenis yaitu bensin dan solar.
Bahan bakar ini diklaim lebih murah, lebih irit, dan emisi nyaris 0, serta ramah lingkungan.
Bahkan, kualitasnya setara dengan RON 98.***
Share this article
Pakar UGM menilai euforia BOBIBOS ini jangan sampai seperti bahan bakar yang pernah viral dibera SBY.