AYOJAKARTA.COM - Banjir besar terjadi di Sumatera Utara, salah satunya wilayah Tapanuli.
Terkait peristiwa ini, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Utara atau Walhi Sumut menyebut ada tujuh perusahaan yang diduga sebagai penyebab utama terjadinya bencana ekologis di Tapanuli.
Diketahui, sejak Selasa (25/11), ada delapan kabupaten/ kota di Sumatera Utara yang terdapak banjir dan tanah longsor.
"Paling parah berada di kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Puluhan ribu warga terpaksa harus mengungsi ke tempat aman," tulis Walhi dikutip dari akun Instagramnya.
Walhi mengatakan bencana ini bukan hanya sekadar perubahan iklim dan intensitas hujan yang tinggi.
Tapi juga karena faktor pendukung besarnya yaitu illegal logging yang cukup masif.
"Berkurangnya fungsi hidrologis di area tangkapan air di sekitar DAS Batang Toru, kehadiran korporasi-korporasi asing yang berdiri megah disekitar lanskap batang toru: Tambang emas PT.AR Tapsel, PLTA NSE (Tapsel), PLTMH PJ, Geothermal PT SOL (Taput), PKR PT TPL (Taput), Perkebunan Sawit PT. SN (Tapteng), Perkebunan Sawit PTPN III BT (Tapsel)," tulis Walhi lagi.
Hingga kini, berdasarkan data BNPB korban meninggal dunia di Sumatera Utara mencapai 217 orang.
Korban meninggal dunia ini tersebar di wilayah mulai Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias.
Sedangkan 209 orang masih dinyatakan hilang.***
Share this article
Walhi Sumut sebut ada tujuh perusahaan yang jadi 'dalang' bencana di Tapanuli, ini daftarnya.