AYOJAKARTA.COM - Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait pelarangan menanam kelapa sawit di Jawa Barat menuai pro kontra.
Dedi Mulyadi menganggap bahwa perkebunan kelapa sawit yang masif dan boros air bisa memicu ancaman krisis air dan bencana lingkungan.
Pelarangan tanam kelapa sawit di Jabar tertera dalam Surat Edaran Nomor 187/PM.05.02.01/PEREK tentang Larangan Penanaman Kelapa Sawit di Wilayah Provinsi Jawa Barat.
Kali ini pakar dari Institut Pertanian Bandung (IPB) turut buka suara terkait kebijakan tersebut.
Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Suwardi menilai kebijakan Dedi ini tidak tepat.
Menurutnya, secara geografis dan iklim di Jawa Barat terutama wilayah barat cocok untuk ditanami kelapa sawit.
Tanaman ini, kata Suwardi justru efisien dalam memanfaatkan air.
Baca Juga: Masuki Tahun 2026, Gubernur Pramono Targetkan Ribuan Pemutihan Ijazah Bagi Warga Jakarta
Ia menjelaskan bahwa tanaman yang boros air bisa diketahui dari tingkat transpirasinya yakni tanaman dengan banyak stomata pada daun.
Adapun tanaman yang dimaksud misalnya tebu dan padi.
Suwardi pun menegaskan bahwa anggapan tanaman kelapa sawit boros air adalah salah.
Menurutnya, tanaman yang boros air biasanya memiliki akar tunjang yang mampu menembus jauh ke dalam tanah.
Sedangkan, kelapa sawit memiliki akar serabut yang tidak ekspansif dalam menyedot air.***
Share this article
Pakar IPB justru menyebut jika secara geografis dan iklim di Jawa Barat terutama wilayah barat cocok untuk ditanami kelapa sawit.