AYOJAKARTA.COM – Heboh di sosial media X (Twitter) netizen banyak mengunggah potongan video bakal calon presiden dari PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo yang terlihat dalam video azan magrib di TV.
Banyaknya unggahan-unggahan netizen tentang adanya Ganjar dalam video azan tersebut menjadikan kata kunci RCTI trending di twitter.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Muncul dalam Adzan Maghrib di TV, Apakah Politik Identitas?
Rupanya tayangan azan dengan menampilkan bacapres Ganjar Pranowo yang diusung PDI perjuangan, PPP, Partai Hanura dan Perindo itu sudah sejak (6/9/2023) tayang di dua stasiun televisi swasta, yakni RCTI dan MNCTV.
Tayangan iklan azan magrib yang menampilkan Ganjar Pranowo itu memancing perbincangan di media sosial twitter.
Netizen menyebut hal itu merupakan bentuk politik identitas video tersebut salah satunya diunggah oleh akun twitter @Yom_N_Friends yang menyinggung indikasi politik identitas.
Baca Juga: Survei SMRC Ungkap Siapa yang Paling Disukai Pemilih NU, Anies, Prabowo atau Ganjar?
“GP di Adzan Maghrib RCTI nih gaess.. Bukan Politik identitas…?” tulisnya.
Unggahan tersebut mendapatkan banyak respon dari netizen. Bahkan, ada netizen yang menyoal kembali janji soal tidak akan 'bermain' dengan politik identitas.
"Ciee yang udah nongol aja di RCTI pas azan Maghrib. Katanya nggak mau politik identitas," tulis akun lain.
Baca Juga: Anies dan Ganjar Sambut Tantangan Debat Capres BEM UI, Prabowo Bagaimana?
Sementara itu, netizen lainnya ikut menimpali polemik yang tentunya menjadi perhatian publik ini.
Bahkan salah satu netizen mengunggah artikel terkait pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang jauh-jauh hari sudah memperingatkan agar tidak memilih pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik.
Unggahan netizen di kolom komentar tersebut seolah menyindir tayangan adzan maghrib yang menampilkan salah satu bacapres yang akan bersaing pada kontestasi pemilu 2024 mendatang.

Share this article
Video Ganjar Pranowo dalam azan magrib tayang di dua stasiun televisi swasta, yakni RCTI dan MNCTV. Bukan politik identitas?