AYOJAKARTA.COM – Baru-baru ini gempa Megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi sorotan publik.
Padahal gempa Megathrust di zona tersebut bukanlah hal baru, sudah lama ada bahkan sudah ada sejak sebelum tsunami dan gempa di Aceh yang terjadi di 2004.
Ramainya pembahasan tentang gempa Megathrust di zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut bertujuan untuk memberikan peringatakan kepada masyarakat bukan untuk menakut-nakuti.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama bahwa pemerintah sudah membuat potensi-potensi tsunami terutama untuk Megathrust ini ke dalam dokumen induk pengurangan risiko bencana tsunami.
“Selat Sunda ini bukan isu baru, pembahasan mengenai Megathrust itu sudah pernah dibahas Jauh sebelum ramai-ramai konten pada hari-hari ini” ucap Kepala Pelaksana BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama, dikutip dari YouTube METRO TV, pada Kamis, 22 Agustus 2024.
“Jadi kita kalau melihat misalnya peta yang dikeluarkan oleh pusgen kemudian juga data yang dikeluarkan oleh BNPB, master plan tentang Megathrust tsunami ini juga sudah dimasukkan di dalam master plan pengurangan risiko tsunami yang dimiliki oleh bnpb sejak tahun 2013” sambungnya.
“Nah jadi pemerintah sebenarnya sudah memasukkan potensi-potensi tsunami terutama megathrust itu ke dalam dokumen induk di dalam pengurangan risiko bencana tsunami dan itu sudah dilakukan jauh-jauh hari” ucapnya lagi.
Viralnya gempa Megathrust tersebut adalah bentuk dari kesiapsiagaan pemerintah dan seluruh masyarakat di dalam pengurangan risiko bencana tsunami.
“Nah memang terkait dengan adanya berita viral ini memang, menurut kami adalah bagian dari kesiapsiagaan kita semua baik pemerintah, masyarakat maupun juga stake holder lainnya di dalam pengurangan risiko bencana tsunami” ujarnya.
Baca Juga: Viral Pria Ini Marah-marah pada Pemilik Bengkel Gara-gara Ganti Kopling Motor Harus Bayar Rp1,5 Juta
Ia mengatakan bahwa potensi untuk terjadinya gempa Megathrust tersebut memang ada, namun, belum ada yang bisa memastikan kapan akan terjaadinya.
Kepala Pelaksana BPBD Lebak juga menyampaikan gempa tersebut bisa saja terjadi tahun depan atau beberapa ratus tahun lagi.
“Tapi yang jelas potensi megathrust itu sendiri memang ada, hanya belum ada sampai sekarang yang bisa memprediksi kapan waktunya” kata Kepala Pelaksana BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama.
“Mungkin bisa tahun depan atau berapa ratus tahun kemudian” lanjutnya.
Ia juga mengatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan mitigasi-mitigasi untuk menghadapi gempa Megathrust tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Lebak tersebut menyampaikan di wilayahnya sudah menyiapkan mitigasi struktural seperti membangun tempat evakuasi dan memasang rambu-rambu evakuasi.
“Dari sekarang kita juga sudah menyiapkan diri melalui mitigasi-mitigasi baik mitigasi struktural maupun nonstruktural” ujarnya.
“Nah untuk di Lebak sendiri Kita juga sudah memiliki mitigasi struktural yaitu pembangunan tempat evakuasi sementara atau shelter kemudian juga kita membuat jalur-jalur evakuasi kemudian juga kita memasang papan petunjuk dan juga rambu evakuasi ke lokasi-lokasi Aman” sambungnya.
Febby Rizki juga menyampaikan untuk mitigasi non-struktural, pihaknya sudah membuat rencana di desa-desa kemudian sudah melakukan simulasi.
Ia mengatakan bahwa masyarakat memberikan respon positif dan pihaknya sudah mengetahui bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri ke tempat yang aman.
“Nah untuk dimitigasi nonstrukturalnya kita bentuk desa tanggap bencana, mengadakan gladi, menyusun rencana kontingensi kemudian juga melakukan simulasi” ujarnya.
“Outcome-nya adalah respon masyarakat semakin meningkat ketika diadakan simulasi sehingga dari skenario-skenario yang telah kita buat, kita bisa mengetahui masyarakat memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri ke tempat yang aman” tutupnya.

Share this article
Ramainya pembahasan tentang gempa Megathrust di zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, Kepala BPBD ungkap pemerintah...