AYOJAKARTA.COM -- Kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan masih menjadi tantangan besar yang memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak. Menyadari hal tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) mengambil langkah proaktif dengan mengampanyekan gerakan antiajekan.
Melalui unit Integrated Terminal (IT) Balongan, perusahaan plat merah ini menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bertajuk "Say No to Bullying" bagi para peserta didik baru. Program edukatif ini menyasar para siswa di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Balongan.
Pertamina mengemas kegiatan ini sebagai bagian penting dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Melalui intervensi sejak dini ini, perusahaan berharap dapat memutus mata rantai kekerasan emosional maupun fisik yang kerap menimpa remaja usia sekolah.
Penyelenggaraan acara ini melibatkan sinergi yang kuat antara pihak sekolah, korporasi, dan tenaga ahli profesional. Kegiatan yang bertempat di aula sekolah tersebut dihadiri langsung oleh Kepala UPTD SMP Negeri 1 Balongan, Agus Sugiyanto, beserta jajaran dewan guru.
Dari pihak internal perusahaan, hadir SPV I HSSE Operation Integrated Terminal Balongan, Rahma Lili Khairina. Sementara itu, untuk membedah masalah dari sudut pandang medis dan psikologis, panitia menghadirkan Psikolog Anak terkemuka, Harthim Noor Imaningsih.
Sebanyak 352 siswa baru tercatat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini dengan penuh perhatian.
Saat memberikan sambutan pembuka, Kepala UPTD SMP Negeri 1 Balongan, Agus Sugiyanto, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada jajaran manajemen PT Pertamina Patra Niaga IT Balongan. Menurutnya, kontribusi perusahaan selama ini telah banyak membantu kemajuan kualitas fasilitas dan mentalitas pendidikan di sekolah tersebut.
"Pihak sekolah menyampaikan rasa terima kasih kepada PT Pertamina Patra Niaga IT Balongan atas kerja sama positif yang terus berjalan. Kami berharap para siswa baru tetap mempertahankan semangat belajar, baik selama kegiatan MPLS maupun saat memulai proses kelas formal. Ubahlah masa awal sekolah ini menjadi batu loncatan untuk tumbuh sebagai generasi yang sarat prestasi dan penuh rasa hormat terhadap sesama," tutur Agus.
Pada sesi inti, suasana aula mendadak hening saat Psikolog Anak, Harthim Noor Imaningsih, mulai memaparkan materinya. Harthim mengupas tuntas definisi dasar perundungan, dampak buruk jangka panjang yang merusak mentalitas korban, hingga pengelompokan jenis tindakan perundungan yang sering terjadi tanpa disadari oleh para remaja.
Harthim membagi tindakan merugikan tersebut ke dalam beberapa kategori utama, antara lain bullying verbal, fisik, emosional, seksual, dan cyberbullying.
Dalam kesempatan yang sama, Harthim mengajak seluruh siswa untuk bergotong-royong mendirikan benteng perlindungan di sekolah yang inklusif dan ramah terhadap perbedaan latar belakang.
Ia menanamkan doktrin moral agar anak-anak memiliki keberanian sikap untuk tidak menjadi pelaku, berani menolak menjadi korban, serta tidak tinggal diam saat menyaksikan aksi perundungan menimpa temannya sendiri.
Sosialisasi ini berjalan dengan format dua arah yang sangat hidup. Ratusan pelajar baru terlihat sangat aktif melemparkan pertanyaan pada sesi tanya jawab.
Mereka berkonsultasi mengenai taktik menghadapi pelaku perundungan, cara mendampingi rekan yang mengalami trauma akibat diintimidasi, serta jalur pengaduan yang harus mereka hubungi jika melihat tindak kekerasan di area sekolah.
Salah seorang siswa baru yang mengikuti acara tersebut, Ian, mengungkapkan rasa bahagianya bisa menjadi bagian dari agenda edukasi yang inspiratif ini. Menurutnya, kegiatan MPLS tahun ini jauh dari kesan senioritas yang menakutkan.
"Saya merasa sangat senang bisa mengikuti seluruh program MPLS yang berjalan sejak hari Senin hingga sekarang. Perasaan saya sangat gembira bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMP. Informasi yang saya dapatkan hari ini sangat membantu saya untuk memahami cara menjalin pertemanan yang sehat serta menjauhi segala bentuk perundungan," kata Ian.
Di tempat terpisah, Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, menegaskan bahwa program kemitraan ini merupakan perwujudan nyata dari tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) perusahaan.
Pertamina memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan generasi muda Indonesia dengan memastikan mereka mendapatkan ruang tumbuh yang sehat di lingkungan sekolah.
"Melalui pelaksanaan program ini, manajemen Pertamina menginginkan para siswa baru mempunyai pemahaman mendalam terkait pentingnya gerakan pencegahan perundungan, sehingga mereka mampu membangun suasana belajar yang aman, merangkul semua golongan, dan penuh rasa toleransi," urai Reno.
Melalui program ini, PT Pertamina Patra Niaga secara langsung ikut mendukung percepatan target pemenuhan beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan oleh PBB, yaitu poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, poin 4 tentang pendidikan berkualitas, poin 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta poin 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.
Share this article
Pertamina Patra Niaga Regional JBB gelar sosialisasi Say No to Bullying bagi 352 siswa baru SMPN 1 Balongan saat MPLS 2026.