AYOJAKARTA.COM -- Pemandangan tidak biasa, belum lama ini terjadi di dalam salah satu ruangan yudisium di kampus Universitas Islam Sultan Agung atau Unissula, Semarang.
Momen tidak biasa atau anomali terjadi karena deretan pejabat Rektorat Unissula berlomba untuk mencium tangan salah seorang mahasiswa yang ikut wisuda.
Peristiwa anomali saat pelaksanaan wisuda di kampus Unissula yang sempat tertangkap oleh kamera, membuat suara warganet di jagat maya bergema.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Muntah Saat Puasa? Ini Penjelasan Buya Yahya
Menyikapi momen unik adanya unggahan video rekaman berisi acara saat wisuda di Unissula, Semarang tersebut, ribuan warganet memberikan pendapat.
Menurut warganet sosok peserta wisuda yang tangannya banyak mendapat ciuman dari para Pejabat Rektorat, jelas bukan mahasiswa biasa.
Berbekal rasa penasaran, sosok mahasiswa yang berada di balik balutan jubah hitam serta atasan toga tersebut kemudian diketahui memang bukan mahasiswa biasa.
Sosok mahasiswa yang tangannya mendapat banyak ciuman dari Rektor atau kelompok penting di setiap perguruan tinggi, adalah Buya Yahya.
Terbiasa tampil dengan menggunakan jubah gamis serta kepala berbalut sorban, penampilan Buya Yahya tidak berbeda dengan mahasiswa peserta wisuda umumnya.
Meski deretan Rektor Unissula berusaha untuk mencium tangan, dengan sikap tawadhu dan santun Buya Yahya justru menunjukan sikap hormat sebagai mahasiswa.
Baca Juga: Salat Tarawih 8 atau 20 Rakaat? Ini Penjelasan Lengkap Buya Yahya
Pengetahuan terhadap sosok Buya sebagai Mubaligh di masyarakat dan Profesor bagi kalangan Akademisi, membuat Rektor mengesampingkan peran Buya sebagai mahasiswa.
Meski baru mendapat gelar Sarjana dari Fakultas Psikologi Unissula pada 15 Maret 2025 lalu, nama Buya Yahya sudah terdengar lebih besar dari gelarnya.
Sosok mahasiswa pemilik nama Yahya Zainul Muarif, Lc., yang lahir pada tahun 1973 tersebut sedianya sudah memiliki gelar akademis sebagai Profesor.
Keingintahuan mendalam tentang manusia, membuat pemilik gelar Ph.D tersebut memilih Ilmu Psikologi untuk bekal melakukan syiar serta dakwah.
Menurut Buya, Psikologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang paling dibutuhkan untuk bisa menyikapi berbagai fenomena dan keadaan umat.
Dalam dunia dakwah yang berkaitan dengan fatwa, ilmu psikologi berguna untuk dapat memahami seseorang secara lebih mendalam.
Baca Juga: Begini Penjelasan Buya Yahya Soal Tadarus Mengganggu Kenyamanan Warga, Disebut Haram?
Dengan mengetahui kondisi seseorang atau masyarakat secara lebih mendalam atau menyangkut aspek kejiwaan, maka keputusan seorang Faqih akan menjadi lebih bijaksana.
Tanpa adanya pertimbangan mendalam terhadap kondisi menyeluruh seseorang, ilmu agama menurut Buya bisa menjadi penyebab perselisihan.
Karena itu untuk membuat dakwah menjadi lebih indah, adalah dengan mempelajari alasan seseorang melakukan suatu perbuatan.***
Share this article
Momen tidak biasa atau anomali terjadi karena deretan pejabat Rektorat Unissula berlomba untuk mencium tangan salah seorang mahasiswa.