AYOJAKARTA.COM - Belakangan, artis yang dianggap tidak sesuai norma dan perilakunya membuat geram seperti selingkuh, bullying atau rasis ramai di perbincangkan.
Banyak masyarakat melayangkan protes dengan cara cancel culture.
Satu di antaranya dengan memboikot artis yang bersangkutan supaya tidak tampil lagi di depan publik.
Istilah cancel culture mungkin sudah familiar di telinga.
Tren memboikot ini biasanya dilakukan terhadap sosok artis atau public figure yang dianggap telah membuat pernyataan atau berperilaku yang ofensif.
Fenomena tentang cancel culture umumnya terjadi di media sosial.
Semua orang sebenarnya bisa saja menjadi korban cancel culture, tetapi fenomena ini biasanya paling banyak dialami oleh tokoh-tokoh masyarakat, seperti politisi, aparatur negara, pemuka agama, dan selebritas.
Hingga saat ini, banyak fenomena cancel culture yang berhasil memerangi hal-hal negatif, seperti seksisme dan rasisme, karena fenomena ini menuntut adanya perubahan sosial.
Selain itu, cancel culture juga memungkinkan seseorang untuk berpikir lebih jauh mengenai dampak dari setiap hal yang akan dilakukannya.
Baca Juga: Kasus Meningkat, Wabah Cacar Monyet Dinyatakan Sebagai Darurat Kesehatan Global oleh WHO
Cancel culture merupakan sebuah gerakan yang dikhawatirkan bisa berkontribusi pada peningkatan polarisasi politik.
Baik itu tweet atau klip video yang kontroversial, pengguna media sosial dengan cepat bisa menuntut pertanggungjawaban pada subjek.
Namun, para kritikus menganggap bahwa hal ini bisa menjadi sebuah bentuk online shaming, yang kemudian bisa mengarah kepada cyberbullying.
Cancel culture ini melibatkan upaya bersama untuk menarik dukungan untuk sosok atau bisnis yang telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan sampai mereka meminta maaf atau menghilangkan pandangan yang secara mayoritas dianggap keliru.
Meskipun memiliki beberapa manfaat, fenomena cancel culture juga bisa membawa dampak yang kurang baik bagi kesehatan mental korban, pelaku, dan pengamat atau orang yang hanya melihat fenomena cancel culture.
Baca Juga: Bahaya Kosmetik Mengandung Merkuri Bagi Kesehatan, dari Ruam hingga Kehilangan Memori
Berikut beberapa dampaknya yang dirangkum AyoJakarta.com dari berbagai sumber pada Kamis (28/7/2022).
1. Dampak bagi korban cancel culture
Fenomena cancel culture ini seharusnya bisa menjadi sarana untuk membuat korban memahami kesalahannya, memperbaiki kesalahan tersebut, dan mengambil langkah yang tepat agar ia tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.
Namun, bukannya membuat sang korban menjadi paham akan kesalahannya, fenomena cancel culture, terlebih yang kerap terjadi akhir-akhir ini, tak jarang malah berubah menjadi perilaku intimidasi atau bullying kepada korban.
Hal ini tentu bisa membuat korban merasa terkucilkan, terisolasi, bahkan kesepian.
Tak menutup kemungkinan, korban pun akan lebih berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri.
2. Dampak bagi pelaku cancel culture
Perlu kamu ketahui bahwa fenomena cancel culture juga tidak selalu berhasil membuat korbannya sadar akan kesalahannya, apalagi jika pelaku cancel culture dan korbannya tidak memiliki hubungan yang dekat.
Terkadang, praktik cancel culture seperti itu justru hanya akan membuat si korban merasa lebih tertantang untuk mempertahankan ego dan reputasinya.
Bila demikian, hal tersebut justru dapat menyebabkan pelaku cancel culture semakin merasakan berbagai emosi negatif, seperti kesal, marah, bahkan frustasi.
Selain itu, fenomena cancel culture disebut juga bisa menurunkan tingkat empati pelakunya.
Pasalnya, saat melakukan praktik cancel culture, pelaku akan cenderung menolak untuk mendengarkan atau memahami posisi korban cancel culture.
3. Dampak bagi pengamat cancel culture
Fenomena cancel culture tidak hanya akan membawa dampak bagi kesehatan mental pelaku dan korbannya saja, tapi juga bagi pengamat atau orang yang sekadar menyaksikan fenomena tersebut.
Terlalu sering melihat praktik cancel culture bisa menyebabkan seseorang diliputi ketakutan dan kekhawatiran bahwa dirinya bisa saja ditinggalkan oleh orang lain.
Selain itu, pihak yang mengamati fenomena cancel culture juga bisa mengalami rasa cemas bahwa orang lain akan menemukan suatu hal pada dirinya yang bisa digunakan untuk melawannya di kemudian hari.
Tips Mencegah Dampak Buruk Cancel Culture pada Kesehatan Mental
1. Biasakan untuk berpikir dua kali sebelum memposting suatu konten di media sosial. Ingat, jejak digital tidak akan hilang,
2. Hindari memposting sesuatu di media sosial saat sedang merasa emosi.
3. Biasakan mengkritik orang lain sewajarnya.
4. Lakukan detoks media sosial secara berkala, terlebih bila sedang merasa cemas atau kewalahan.
5. Curhatlah kepada orang-orang yang dipercaya, seperti keluarga atau sahabat, apabila kamu menjadi korban cancel culture.***

Share this article
Berikut penjelasan tentang cancel culture dan dampaknya bagi kesehatan mental beserta tips untuk meminimalisirnya.