AYOJAKARTA.COM - Asbes selama ini masih kerap digunakan sebagai material atap rumah karena harganya terjangkau dan mudah dipasang.
Namun, di balik kepraktisannya, asbes menyimpan ancaman serius bagi kesehatan yang sering diabaikan.
Padahal, debu asbes memiliki ukuran sangat kecil, ukurannya kurang dari tiga mikrometer, atau sekitar 1/700 helai rambut manusia sehingga mudah terhirup dan mengendap di paru-paru.
Partikel debu asbes berbentuk tajam dan mikroskopis. Saat masuk ke sistem pernapasan, tubuh tidak mampu mengeluarkannya secara alami.
Akibatnya, paparan jangka panjang dapat memicu berbagai penyakit berbahaya. Setidaknya ada tiga gangguan kesehatan utama yang berkaitan langsung dengan debu asbes.
Pertama adalah kanker. Debu asbes dikenal sebagai zat pemicu kanker, terutama kanker paru dan mesothelioma, yaitu kanker langka pada lapisan pleura paru-paru. Risiko ini semakin tinggi pada perokok yang juga terpapar asbes.
Kedua, asbestosis, yakni penyakit paru kronis akibat inhalasi debu serat asbes dalam jangka waktu lama.
Asbestosis menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru sehingga fungsi pernapasan terganggu.
Gejalanya meliputi napas pendek, batuk kering berkepanjangan, nyeri dada, hingga kelelahan ekstrem.
Menariknya, gejala asbestosis umumnya baru muncul 10–40 tahun setelah paparan awal.
Ketiga adalah gangguan pada pleura, lapisan tipis yang menyelimuti paru-paru.
Endapan debu asbes dapat menyebabkan penebalan pleura atau penumpukan cairan di rongga dada, yang berujung pada sesak napas dan nyeri dada.
Asbes dulu banyak digunakan dalam industri konstruksi, seperti bahan atap, semen, pipa, insulasi, rem kendaraan, hingga tekstil.
Meski kini penggunaannya mulai dibatasi, risiko paparan masih mengintai, terutama pada pekerja pembongkaran bangunan tua era 1970–1990-an.
Bahkan, partikel asbes juga bisa masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan asbestosis atau memulihkan kerusakan paru secara total.
Penanganan difokuskan pada meredakan gejala, menghentikan paparan, berhenti merokok, rehabilitasi paru, hingga terapi oksigen. Dalam kasus berat, transplantasi paru menjadi opsi terakhir.
Untuk pencegahan, masyarakat disarankan menghindari penggunaan atap berbahan asbes dan beralih ke material ramah lingkungan.
Jika terpaksa beraktivitas di lingkungan berdebu asbes, gunakan masker dan alat pelindung khusus.
Apabila mengalami gejala gangguan pernapasan dengan riwayat paparan asbes, segera konsultasikan ke dokter atau spesialis paru untuk pemeriksaan lebih lanjut.***

Share this article
Debu asbes yang terhirup dapat mengendap di paru-paru dan memicu kanker, asbestosis, serta gangguan pleura. Gejalanya muncul puluhan tahun kemudian, sehingga paparan asbes perlu dihindari sejak dini.