AYOJAKARTA.COM - Laga Arema Vs Persebaya yang digelar pada Sabtu, 01 Oktober akhinya memberikan kabar duka bagi sejumlah pecinta Sepak Bola di Tanah air.
Hal ini terjadi semenjak laga Arema Vs Persebaya yang diadakan di Stadion Kanjuruhan Malang berakhir Ricuh, sampai dikabarkan banyak menelan ratusan korban jiwa.
Adapun kericuhan yang terjadi dalam pertandingan Arema Vs Persebaya itu dipicu, dari sejumlah oknum Suporter club berjuluk Singo edan yang tidak terima kekalahan saat menjamu Persebaya dimarkas kebanggan.
Baca Juga: Kang Dedi Mulyadi Disebut Punya Selingkuhan, Ambu Anne Ratna Mustika Dituding Kacang Lupa Kulitnya
Diketahui dalam laga tersebut Persebaya Surabaya berhasil mencuri point dikandang arema dengan skor akhir 3-2.
Polisi dikritik habis-habisan usai gagal menangani massa suporter dari Aremania yang masuk stadion udai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya, aparat kedapatan menembakkan gas air mata ke tribun penonton yang penuh, padahal benda itu dilarang oleh FIFA, beberapa Bonek bersuara.
Tragedi chaos penanganan massa suporter usai laga Arema FC Vs Persebaya ini yang menyulut perhatian ini disebut bukan soal kelompok sepak bola, tapi tragedi kemanusiaan, Bonek dan banyak kelompok suporter lain ikut berduka.
Baca Juga: Link Live Streaming Kualifikasi Piala Asia U17 Bahrain 2023: Guam U16 vs Indonesia U16
Akun Instagram Polres Malang diserbu habis-habisan oleh warganet yang umumnya dari kalangan suporter, termasuk Bonek fans Persebaya Surabaya.
Dalam salah satu unggahan sebelum laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya, Polres Malang membuat ajakan suporter untuk tak membawa flare ke stadion.
Namun kenyataanya polisi yang justru menggunakan gas air mata di dalam stadion yang penuh, bahkan banyak wanita dan anak-anak.
"Matikan flare, lempar gas air mata," sindir akun @dzak***.
"Aku Bonek pak. Tapi tindkan anggotamu gak masuk blas, cok!!!," tulis akun @ydst***.
"Aku Bonek tapi tindakanmu ngawur dengan menembak gas air mata dikira bisa bubar dengan kapasitas suporter full kaya gitu? Itu sama saja ada orang di dalam botol terus sampean semprot Baygon, itu penertiban atau penyiksaan," tulis akun @bond****.
Selain itu media sosisal Twitter juga ramai dengan tagar Kanjuruhan, Bonek, dan Polisi.
Banyak di antara pengguna media sosial itu memberi kesaksian apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menyebut penembakan gas air mata menjadi salah satu penyebab banyak orang tewas di Stadion Kanjuruhan.
"Setop Kompetisi atas dasar kemanusiaan," tulis dia.
Seorang jurnalis dengan akun @ainurrohman di Twitter membeberkan mendapat keterangan bila total orang meninggal dunia mencapai 127 orang hingga, Ahad atau Minggu (2/10/2022) pagi sekitar pukul 06.0 WIB.
"Via Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta, total 127 orang meninggal. 2 di antaranya anggota polisi.
Baca Juga: Baim Wong dan Paula Verhoeven Bikin Konten Prank KDRT, Polisi Tegaskan Bisa Kena Pidana
Panglima TNI Tegaskan Personel yang Lakukan Kekerasan pada Suporter di Kanjuruhan Akan Dipidana
Pertandingan yang rusuh dan membuat aparat keamanan melempar gas air mata dan membuat banyak korban panik, sesak nafas hingga korban meninggal 127 orang.
Beredar pula viral sejumlah video, aksi prajurit TNI yang menendang para suporter bola di tengah lapangan dalam kerusuhan itu.
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengatakan tindakan kekerasan anggota TNI terhadap masyarakat sipil tersebut merupakan hal yang berlebihan.
"Kita tidak akan mengarah pada disiplin. Tetapi pidana, karena memang itu sudah sangat berlebihan," terang Andika di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (3/9/2022).
Terkait tragedi Kanjuruhan, tegas Andika, sudah dilakukan investigasi serta upaya hukum.
Menurut Andika, tindakan represif yang dilakukan anggotanya sudah di luar kewenangan prajurit TNI. ***

Share this article
Tragedi chaos penanganan massa suporter usai laga Arema FC Vs Persebaya ini yang menyulut perhatian ini disebut bukan soal fans bola.