Menengok Kampung Gabus, Kampung Penghasil Timun Suri di Bulan Ramadan
BEKASI, AYOJAKARTA.COM--Timun suri, buah musiman yang menjadi primadona kudapan sop buah di bulan Ramadan, sudah tak asing dicicipi setiap orang. Tentu dibalik itu ada perjuangan para petani yang menanam sampai memanennya.
Di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Kampung Gabus, Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, pedagang timun suri mudah ditemui. Sepanjang Jalan Haji Nausan misalnya, warga setempat tampak menjajakan timun suri di depan jalanan.
Namun di balik jalan raya tersebut, terhampar berhektare-hektare kebun timun suri. Disebut kampung jawara Bekasi ini merupakan salah satu daerah terbesar pemasok timun suri bulan Ramadan di Jawa Barat.
"Memang terbesar, kita bisa ngirim sampai ke mana-mana. Ke Cikarang, Cibitung, Kota Bekasi, Karawang, Bandung, bahkan Jakarta," ujar salah seorang petani Markoli (49) saat ditemui di sela memanen timun suri di kebunnya, Kamis (16/5/2019).
Markoli sudah menggeluti menjadi seorang petani timun suri sekitar delapan tahun. Dia didampingi sang istri Karniawati (45) menanam dan memanen timur suri itu tiap tahunnya.
Dia pribadi tidak mempunyai tanah resmi, hanya saja diijinkan menggarap tanah milik orang lain di lahan milik perumahan setempat, kurang lebih 5.000 meter persegi. "Walau sedikit, tapi untung. Bisa kerja," ujarnya.
Markoli mengungkapkan memang rata-rata di Kampung Gabus, masyarakat berprofesi sebagai petani. Biasanya tanah di kampungnya digarap untuk tananam seperti bayam, palawija, sawi, dan timun suri.
Tiap tanaman digarap bergantian tergantung musim. Sementara khusus timun suri ia menamannya antara satu sampai satu setengah bulan sebelum bulan puasa.
Timun suri yang ditanamnya mempunyai tiga jenis, antara lain timun suri Taiwan, timun suri Paris, dan timun suri manohara. Tiap timun suri mempunyai karakter tersendiri. Namun yang biasa paling laku di pasar yakni timun suri Taiwan dan Paris. Bentunya yang bulat, besar, dan berwarna mencolok menjadi keunggulannya.
"Rata-rata timun suri usianya 45-60 hari tanam, baru bisa dipanen. Jadi kemarin antara Maret-April kita menanamnya, jadi sekarang tinggal panen terus dijual," jelasnya.
Ketika masuk masanya itu, untuk ukuran kebun sekitar 2.000 meter persegi, timun suri yang dapat dipanen sampai empat kali. Rata-rata dari ukuran kebun itu menghasilkan mencapai 15 kuwintal lebih.
Karena jumlahnya yang besar, Markoli biasa menjual timunnya kepada pemborong. Untuk harganya cukup murah namun sangat menguntungkan yakni Rp2.500-Rp5.000 untuk per kilogramnya.
Ia pun mengungkapkan, ada sekitar 40 orang penggarap lahan sepertinya meski tidak mempunyai tanah langsung. Namun di sekitar Kampung Gabus masih banyak juga warga-warga yang secara pribadi memanfaatkan tanah pribadi untuk menaman timun suri.
"Memang di Kampung Gabus udah terkenal jadi penghasil timun suri. Kalau puasa, jalan juga berubah jadi warna kuning kaya timun suri, banyak yang jualan," canda Markoli memungkasi.
Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih
cepat
Share this article
Timun suri, buah musiman yang menjadi primadona kudapan sop buah di bulan Ramadan, sudah tak asing dicicipi setiap orang. Tentu dibalik itu ada perjuangan para petani yang menanam sampai memanennya.