AYOJAKARTA.COM - Pada tahun 2019, Huawei sebagai raksasa teknologi asal Tiongkok, menerima pukulan besar ketika pemerintahan Donald Trump memasukkan perusahaan ini ke dalam "Entity List" Departemen Perdagangan AS.
Keputusan ini mengakibatkan Huawei kehilangan akses terhadap teknologi buatan Amerika Serikat.
Semenjak itu, Huawei tidak dapat mengakses layanan penting dari Google, Intel, dan Qualcomm di produknya.
Ketika itu, langkah-langkah yang diambil AS membuat Huawei mengalami keterpurukan, namun bukan berarti akhir dari cerita mereka.
Setahun setelahnya, AS meluncurkan aturan yang lebih keras, memutus akses Huawei ke chip semikonduktor, salah satu komponen vital dalam produksi smartphone mereka.
Huawei tak lagi bisa mengandalkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) untuk menyediakan chip canggih.
Baca Juga: Samsung Galaxy S25 Series Dikenalkan di San Jose, Semua Seri Dilengkapi RAM 12GB
Pada Juli 2020, Inggris bahkan melarang penggunaan perangkat Huawei pada jaringan 5G dan memerintahkan penggantian perangkat Huawei sebelum 2027.
Langkah serupa diikuti oleh Jerman dan Prancis, membuat Huawei semakin terisolasi di pasar Barat.
Namun, meskipun terpojok, Huawei tak hanya bertahan, tetapi juga melesat dengan cepat.
Mereka berhasil mengembangkan chip semikonduktor buatan dalam negeri "Kirin 9000s" yang diproduksi dengan teknologi 7 nanometer.
Baca Juga: BANYAK KEJUTAN! Review Redmi Note 14 Pro 5G Terbaru 2025, Seberapa Tangguh Performanya?
Pada Agustus 2023, Huawei meluncurkan smartphone Mate 60 Pro yang menandakan kebangkitan perusahaan ini.
Tidak hanya itu, Huawei juga memperkenalkan sistem operasi baru, Harmoni OS Next, yang mampu menggantikan Android dan menawarkan performa tak kalah canggih.
Cerita kebangkitan Huawei tak terlepas dari visi panjang Ren Zhengfei, pendiri Huawei, yang sejak awal menyadari risiko ketergantungan pada teknologi Barat.
Investasi besar-besaran dalam riset dan pengembangan telah mengantarkan Huawei pada inovasi-inovasi besar, termasuk pengembangan teknologi 5G, kecerdasan buatan, dan komputasi awan.
Dengan menggandeng berbagai universitas dan lembaga penelitian global, Huawei mampu menciptakan produk-produk unggulan meskipun terkendala sanksi ekonomi.
Salah satu langkah strategis Huawei adalah memperkenalkan Harmoni OS pada 2019, sebagai alternatif ketika akses mereka terhadap Android terputus.
Sistem operasi ini kini semakin matang, dan dengan lebih dari 15.000 aplikasi yang kompatibel.
Harmoni OS Next mulai menarik perhatian di pasar Tiongkok, dengan pangsa pasar Android perlahan menyusut.
Huawei telah membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan ekosistem yang kuat tanpa bergantung pada teknologi asing.
Pada akhirnya, Huawei telah menunjukkan bahwa tekanan dan isolasi tidak membuatnya melemah.
Sebaliknya, mereka semakin kuat dan kini menjadi ancaman serius bagi dominasi perusahaan-perusahaan teknologi Barat.
Baca Juga: SPEK MAHAL! Poco X7 Pro, Tawarkan Performa Tinggi dengan Spesifikasi Gahar dan Harga Terjangkau
Dengan chip Kirin 9000s dan sistem operasi Harmoni OS Next, Huawei tidak hanya menantang dominasi Android, tetapi juga bersaing di sektor-sektor vital seperti kecerdasan buatan dan komputasi awan.
Kisah Huawei adalah kisah perlawanan yang epik, di mana isolasi justru menjadi energi bagi kebangkitan.
Kini, pasar Tiongkok perlahan berpaling ke produk buatan dalam negeri, dan Huawei menunjukkan bahwa ketika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka.
Teknologi Tiongkok, yang sebelumnya terpinggirkan, kini siap menguasai dunia.
Share this article
Huawei tak lagi bisa mengandalkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) untuk menyediakan chip canggih.