AYOJAKARTA.COM-- Nama Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos) ramai menjadi perbincangan. Bahan Bakar Nabati itu disebut-sebut memiliki angka oktan tinggi mencapai RON 98 atau setara dengan bahan bakar kelas premium, seperti Pertamax Turbo.
Terkait hal tersebut Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak menyebut pengembangan energi baru oleh Bobibos itu merupakan kabar baik. "Namun, penting dipahami bahwa pengembangan energi berbasis biomassa bukanlah hal baru," katanya menegasan kepada AYOJAKARTA, Selasa 18 November2025.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan Ali, pertama penelitiannya sudah berlangsung sangat lama. Dimana pengembangan energi baru berdasarkan BBN bukanlah hal yang baru, yang dalam hal ini Bobibos menggunakan bahan dari jerami padi.
Baca Juga: Viral Patung Soekarno di Alun-alun Indramayu Miring pada Bagian Kepala, Ini Penyebabnya
"Jadi, ilmu dasarnya bukanlah teknologi baru. Saya sendiri sudah menguji sekitar 145 jenis material biomassa," ungkap Ali.
Tidak hanya jerami padi, tetapi juga sekam, daun, limbah vegetatif lain. Seperti jagung beserta bonggol, kelobot jagung, dan batangnya untuk etanol. Lalu ada kelapasawit, tebu serta karet dan berbagai biomassa lain yang mengandung karbon maupun sulfur.
Ali menyebut bahwa saat ini perhatian publik memang meningkat karena momentum kebijakan pemerintah terkait BBN, sepertiE5 etanol mengacu pada campuran bensin dengan 5% bioetanol dan E10 etanol. Lalu B10 yang merupakan campuran bahan bakar berbasis biodiesel (biofuel) dan diesel.
Baca Juga: Ada Demo di Depan Gedung DPR RI Tolak RUU KUHAP, Wakil Rakyat Memilih Gercep Sahkan!
"Respons masyarakat yang cenderung euforia membuat seolah-olah inovasi tersebut sepenuhnya baru. Padahal, di laboratorium-laboratorium milik perguruan tinggi maupun industri, pengembangan bioenergi sudah berlangsung puluhan tahun," tandasnya lagi.
Lebih lanjut Ali menjelaskan bahwa dalam bioenergi terdapat beberapa rumpun teknologi, yakni Biomassa untuk cofiring atau teknologi pembakaran bersama dua bahan bakar berbeda secara simultan di dalam satu tungku, seperti batu bara dan biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Lalu ada juga Pembangkit listrik Biogas, fasilitas yang mengubah energi dari biogas menjadi listrik. Serta ada pengembangkan BBN, seperti biodiesel dan bioetanol yang memang sudah dikembangkan sejak lama.
"Pertamina pun sudah lama mengembangkan fasilitas greenfield untuk biodiesel dan bioetanol. Karena itu, fenomena Bobibos sebenarnya biasa saja dari sisi teknologi. Yang membuat ramai adalah publisitas dan konsumsi informasi yang luas, bukan terobosannya," ungkapnya lagi.
Menurut Ali, euforia bahwa ada “sumber energi baru” pengganti energi fosil juga tidak sepenuhnya tepat. Hampir semua tanaman yang terutama memilki kandungan klorofil tinggi berpotensi sebagai sumber energi. Hanya kandungan kimianya yang berbeda-beda.
"Kebetulan ketersediaan jerami banyak, maka itu yang dipilih. Tetapi prinsipnya sama, seluruh biomassa adalah hasil proses fotosintesis," jelas dia.
Sebagai informasi Bobibos resmi diluncurkan pada 2 November 2025. Produk ini digagas oleh Muhammad Ikhlas Tamrin, yang mengklaim bahwa bahan bakar dari limbah panen padi ini bisa menjadi pengganti BBM fosil yang selama ini masih diimpor dan harganya cenderung naik.
Jerami yang biasanya hanya menjadi limbah sawah diklaim mampu menghasilkan hingga 3.000 liter bahan bakar per hektar. Melalui teknologi biokimia khusus, jerami diolah menjadi dua jenis bahan bakar, yaitu setara bensin dan diesel.
Pengembang Bobibos menyebut nilai oktannya bahkan dapat mencapai RON 98, setara Pertamax Turbo. Kemunculan Bobibos disambut antusias oleh masyarakat karena dianggap bisa menjadi energi murah, ramah lingkungan, dan menguntungkan petani.
Share this article
Nama Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos) ramai menjadi perbincangan. Bahan Bakar Nabati itu sebut-sebut memiliki angka oktan tinggi mencapai RON 98 atau setara dengan Pertamax Turbo