Disebut Jadi Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil, Pengamat Sebut Butuh Ekosistem, Bobibos Harus Sampaikan Blueprint Jelas

Fakta-fakta Bahan Bakar BOBIBOS (Sumber: Instagram @bobibos_)
Fakta-fakta Bahan Bakar BOBIBOS (Sumber: Instagram @bobibos_)

AYOJAKARTA.COM-- Isu Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos) yang bisa menjadi pengganti bahan bakar fosil ramai menjadi perbincangan. Terkait hal tersebut Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak menyebut bahwa rantai pasok industri minyak, gas dan energi tidak sesederhana itu.

"Butuh ekosistem, dalam migas saja ada hulu, seperti sumur, lalu midstream yakni kilang, dan hilir ada SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum-red). Rantai ini saling terhubung," ungkap dia kepada AYOJAKARTA.COM, Selasa 18 November 2025.

Dalam hal ini, kilang tidak dapat beroperasi bila suplai tidak cukup dan penjualan akan terganggu jika distribusi tidak berjalan. "Hal yang sama berlaku untuk bioenergi karena tidak cukup hanya bicara produknya, tetapi harus memastikan rantai pasok bahan baku dan infrastrukturnya," tegas dia.

Baca Juga: Langkah Antisipasi, Disdik DKI Godok Kebijakan Baru Pembatasan Akses Pelajar Terhadap Konten Radikal di Medsos Imbas Ledakan SMAN 72

Jika benar ingin menyelesaikan masalah energi, lanjut Ali, maka industri bioenergi harus dibangun lengkap dengan rantai pasok dari hulu bahan baku, lalu logistik untuk distribusi bahan bakar nabati (BBN) tersebut.

Hingga titik storage dan fasilitas pengolahan awal. Lalu kejelasan lokasi produksi dan kapasitas mini kilang. Kemudian infrastruktur distribusi, seperti SPBU atau titik suplai lain kepada masyarakat.

Hal lain yang jadi catatan, Ali menyebut kalau biomassa seperti jerami hanya panen tiga bulan sekali. "Tidak tersedia setiap hari. Maka perlu sistem penampungan besar dan stabilitas pasokan," ujarnya.

Baca Juga: Euforia Bobibos, Pengamat Sebut Ini Bukan Teknologi Baru, Ini Penjelasannya

Selain itu, menurut dia harus diperhitungkan pula siklus hidup dari energi itu. Seperti biaya angkut jerami ke gudang, penggunaan bensin atau solar, emisi transportasi, hingga proses di pabrik.

"Jangan sampai hanya bombastis di hilir, padahal hulu dan logistiknya tidak layak. Bobibos seharusnya memaparkan blueprint yang jelas," tegas Ali.

Dalam hal ini, kapasitas produksi, perhitungan energi primer versus energi hasil, biaya logistik, emisi transport, dan keekonomian Energi Baru Terbarukan (EBT) secara utuh. "Barulah dapat dibandingkan keekonomiannya dengan produk energi lain," tandas dia.

Baca Juga: Ternyata Tanggal Lahir Bisa Bongkar Sifat Aslimu, Ini Rahasia Numerologi yang Jarang Diketahui Banyak Orang

Proses teknologinya pun tidak sesederhana yang dipublikasikan. Pada dasarnya jerami dicacah, diberi bioaktivator atau ragi, lalu difermentasi untuk menghasilkan etanol.

"Namun produk akhir biasanya perlu tambahan zat aditif untuk mencapai nilai oktan tertentu. Jadi jika Bobibos menggunakan aditif harus disampaikan secara jujur," ungkap dia.

Diluar hal itu, Ali mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Bobibos. Menurutnya Indonesia harus membuka ruang bagi berbagai alternatif.

"Pertamina sudah mengembangkan teknologinya, dan pihak swasta juga boleh berjalan dengan inovasi masing-masing. Yang penting adalah rencana yang matang, seperti kilang, sistem distribusi, dan keekonomiannya," papar dia.

Baca Juga: Akan Segera Diresmikan! Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar Lakukan Pengecekan Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung

Sebagai informasi Bobibos resmi diluncurkan pada 2 November 2025. Produk ini digagas oleh Muhammad Ikhlas Tamrin, yang mengklaim bahwa bahan bakar dari limbah panen padi ini bisa menjadi pengganti BBM fosil yang selama ini masih diimpor dan harganya cenderung naik.

Jerami yang biasanya hanya menjadi limbah sawah diklaim mampu menghasilkan hingga 3.000 liter bahan bakar per hektar. Melalui teknologi biokimia khusus, jerami diolah menjadi dua jenis bahan bakar, yaitu setara bensin dan diesel.

Pengembang Bobibos menyebut nilai oktannya bahkan dapat mencapai RON 98, setara Pertamax Turbo. Kemunculan Bobibos disambut antusias oleh masyarakat karena dianggap bisa menjadi energi murah, ramah lingkungan, dan menguntungkan petani.

Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait
# bobibos
# bioetanol
# Energi Baru Terbarukan
# SPBU
# Bioenergi

Berita Terkait

News Update

Nasional

Apa Keunggulan Teknologi Bioetanol Generasi Kedua dari Limbah Biomassa?

Bioetanol G2 dari limbah sawit (TKKS) jadi solusi swasembada energi tanpa konflik pangan. Namun, proyek hulu di Lampung terancam lonjakan biaya konversi akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Metropolitan

Ciptakan Lingkungan Bersih! Per Agustus 2026, 146 Pasar di Jakarta Terapkan Program Gerakan Pilah Sampah dari Sumber

Program ini mendorong para pedagang, pengelola pasar, hingga pengunjung untuk memisahkan sampah sesuai jenisnya sejak awal.

Metropolitan

Kurangi Aksi Tawuran, Gubernur Pramono akan Perbanyak Fasilitas Olahraga dari Lapangan Sepak Bola hingga Ring Tinju

Pramono rencananya akan memperbanyak lapangan speak bola, arena skateboard hingga ring tinju di ruang terbuka.

Pendidikan

Mahasiswa Merapat! Begini Cara dan Tahapan Daftar Magang di Perpusnas, Bisa Lewat Email Lho

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI secara resmi membuka program magang bagi mahasiswa yang ingin menambah pengalaman di pusat literasi nasional tersebut.

Nasional

Bukan Cuma Tebu, Toyota dan Pertamina Garap Bioetanol Generasi Kedua dari Limbah di Lampung

Arahan Presiden Prabowo, mandatori bioetanol rilis 2027 pasca uji E5 Juli 2026. Proyek terintegrasi di Lampung gandeng Toyota-Pertamina guna olah limbah biomassa jadi bioetanol generasi kedua.

Metropolitan

Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta Bersama Breathe Cities untuk Wujudkan Kualitas Udara Bersih di Ibu Kota

Program ini merupakan inisiatif global yang berfokus pada percepatan penanganan polusi udara di kawasan perkotaan

Jakarta Pusat

Dari Sampah Jadi Cuan, Pupuk Kompos Buatan Cempaka Putih Timur Dijual Rp10 Ribu per Kg

Program ini telah berjalan sekitar tiga bulan dan menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Jakarta Timur

Pramono Anung Buka Suara Usai Tragedi Tiga Pekerja Tewas di Gorong-gorong Cipayung: 1 WNA dan 2 WNI

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung buka suara terkait tragedi maut yang menimpa tiga orang pekerja yang tengah bertugas di dalam gorong-gorong kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Metropolitan

Catat! Akses Penumpang KRL Stasiun Karet Dipindahkan ke BNI City per 28 September 2026

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan perubahan ini berlaku seiring integrasi dari kedua stasiun.

Metropolitan

Penataan Kabel SJUT Tidak Bisa Dilakukan Cepat dam Serentak, Pramono Anung: Karena Begitu Banyak dan Kompleks!

Pemprov DKI sudah memulai proses penataan kabel udara yang selama ini dinilai mengganggu estetika kota dan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan.

Metropolitan

Tekan Angka Tawuran, Pramono Anung akan Perbanyak Lapangan Bola hingga Ring Tinju di Jakarta!

Pramono mengungkapkan bahwa penyediaan sarana seperti lapangan sepak bola, arena skateboard, hingga ring tinju akan menjadi prioritas untuk memberikan kegiatan yang bermanfaat.

Bisnis

Pakai Panel Surya dan Biogas, Pertamina Patra Niaga Regional JBB Bangun Fasilitas Hijau di Karawang

Dewan Komisaris Pertamina Patra Niaga Regional JBB puji Program Ngabedahkeun Walahar di Karawang. Sukses olah eceng gondok via teknologi Hydropure!

Jakarta Timur

Proyek Normalisasi Kali Ciliwung Dikebut, Pemprov DKI Jakarta Alokasikan Anggaran Rp 300 Miliar untuk Bebaskan Lahan

Pramono Anung menegaskan bahwa percepatan normalisasi Kali Ciliwung menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.

Bisnis

BRI Permudah Akses Investasi Ritel Lewat Peluncuran ORI030 Berkupon Hingga 7,00 Persen

BRI hadirkan ORI030 dengan kupon tetap hingga 7,00 persen per tahun di BRImo. Yuk aman investasi dijamin negara, beli sekarang sebelum habis!

Jakarta Pusat

Kabel Fiber Optik Menjuntai di Jalan Cideng Ditertibkan,Ditargetkan Selesa dalam 2 Pekan

Penataan tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dua pekan sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang kota yang lebih tertata, aman, dan nyaman.

Bisnis

Mengendus Penyelewengan Sejak 2024, BNI Seret Kasus KUR Jember ke Polisi

BNI tegaskan kasus KUR Jember berawal dari laporan proaktif perseroan sejak 2024. Manajemen terapkan zero tolerance terhadap fraud!

Metropolitan

Pertama di Indonesia! Pemprov DKI Jakarta Luncurkan Mobil Klinik Hewan Keliling, Pramono Anung: Wujudkan Jakarta Ramah Hewan

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meresmikan layanan mobil klinik hewan keliling di RPTRA Mustika 2, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat, 10 Juli 2026.

Jakarta Timur

Wujudkan Jakarta Kota Global, Perumda Pasar Jaya Luncurkan Gerakan GEBER di Pasar Induk Kramat Jati!

Perumda Pasar Jaya resmi meluncurkan Gerakan Bersama Bersih Pasar (GEBER) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Jumat, 10 Juli 2026.

Metropolitan

Normalisasi Kali Ciliwung Dikebut! Pramono Anung Jamin Pembebasan Transparan, Target Rampung 2027

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan proses pembebasan lahan dalam proyek ini berjalan transparan tanpa melibatkan pihak ketiga atau perantara.

Metropolitan

Waspada! BPBD DKI Jakarta Beri Peringatan Banjir Rob di Pesisir Utara hingga 16 Juli 2026, Cek Daftar Wilayahnya

BPBD DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir atau banjir rob yang diprediksi terjadi pada periode 9 hingga 16 Juli 2026.