AYOJAKARTA.COM – Generasi Z, atau yang sering disebut Gen Z, merupakan kelompok yang lahir antara akhir tahun 1997 hingga 2012.
Mereka dikenal sebagai generasi yang melek teknologi dan memiliki pandangan hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian dari Gen Z adalah kecenderungan mereka untuk sering berpindah-pindah pekerjaan atau resign.
Artikel ini akan membahas alasan utama mengapa Gen Z sering mengambil keputusan untuk resign dari pekerjaan mereka.
Baca Juga: 5 Jenis Kebohongan yang Perlu Kamu Tahu, Salah Satunya Beautiful Lies
1. Gaji Tidak Sesuai dengan Job Description
Salah satu alasan utama Gen Z memutuskan untuk resign adalah karena mereka merasa gaji yang diberikan tidak sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang mereka jalani.
Banyak dari mereka merasa bahwa upah yang mereka terima tidak sebanding dengan tanggung jawab dan beban kerja yang harus mereka pikul.
Ketika gaji yang diterima tidak memenuhi ekspektasi atau kebutuhan hidup mereka, Gen Z lebih memilih untuk mencari peluang lain yang menawarkan kompensasi yang lebih adil dan sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan.
2. Jam Kerja Tidak Teratur
Gen Z juga sangat menghargai waktu mereka, baik untuk pekerjaan maupun kehidupan pribadi.
Jam kerja yang tidak teratur dan sering berubah-ubah membuat mereka merasa kehilangan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.
Banyak perusahaan yang masih menerapkan jam kerja yang fleksibel namun tidak teratur, yang menyebabkan stres dan kelelahan.
Hal ini mendorong Gen Z untuk mencari pekerjaan yang menawarkan jam kerja yang lebih terstruktur dan dapat diprediksi.
3. Kultur Perusahaan yang Toxic
Kultur perusahaan yang toxic adalah salah satu alasan paling signifikan yang mendorong Gen Z untuk resign.
Lingkungan kerja yang tidak mendukung, penuh dengan intrik, dan minim apresiasi membuat mereka merasa tidak nyaman dan tidak betah.
Gen Z menginginkan lingkungan kerja yang positif, kolaboratif, dan mendukung perkembangan pribadi serta profesional mereka.
Ketika lingkungan kerja tidak kondusif, mereka tidak ragu untuk mencari tempat lain yang lebih baik.
4. SOP yang Tidak Jelas
Standard Operating Procedure (SOP) yang tidak jelas juga menjadi alasan mengapa Gen Z memutuskan untuk resign.
Ketidakjelasan dalam SOP sering kali menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian dalam menjalankan tugas.
Gen Z cenderung mencari kepastian dan kejelasan dalam pekerjaan mereka. SOP yang jelas dan terstruktur membantu mereka bekerja lebih efisien dan merasa lebih aman dalam menjalankan tugas mereka sehari-hari.
5. Rekan Kerja yang Toxic
Selain kultur perusahaan yang toxic, rekan kerja yang toxic juga menjadi salah satu alasan utama Gen Z untuk meninggalkan pekerjaan mereka.
Rekan kerja yang tidak mendukung, suka memanipulasi, atau bersikap tidak profesional dapat membuat lingkungan kerja menjadi sangat tidak nyaman.
Interaksi sehari-hari dengan rekan kerja yang negatif dapat menguras energi dan motivasi mereka, sehingga mereka memilih untuk resign dan mencari lingkungan kerja yang lebih positif.
6. Beban Kerja yang Overload
Beban kerja yang berlebihan atau overload sering kali menjadi alasan Gen Z memutuskan untuk resign.
Ketika mereka harus menangani terlalu banyak tugas dan tanggung jawab tanpa dukungan yang memadai, hal ini dapat menyebabkan stres dan burnout.
Gen Z menghargai kesehatan mental dan fisik mereka, dan mereka tidak ragu untuk meninggalkan pekerjaan yang membebani mereka secara berlebihan.
Mereka lebih memilih mencari pekerjaan dengan beban kerja yang lebih wajar dan seimbang.
7. Tidak Ada Jenjang Karier yang Jelas
Gen Z memiliki ambisi dan keinginan untuk berkembang dalam karir mereka. Ketika mereka merasa tidak ada peluang untuk naik jenjang karir atau berkembang dalam perusahaan, mereka cenderung kehilangan motivasi.
Tanpa prospek karir yang jelas, mereka merasa masa depan mereka di perusahaan tersebut tidak pasti.
Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk resign dan mencari perusahaan lain yang menawarkan peluang karir yang lebih baik dan jelas.
8. Tidak Ada Work-Life Balance
Work-life balance adalah salah satu aspek yang sangat dihargai oleh Gen Z. Mereka tidak ingin seluruh waktu dan energi mereka terserap oleh pekerjaan saja.
Ketika pekerjaan mulai mengganggu kehidupan pribadi dan waktu untuk keluarga atau hobi, mereka merasa perlu untuk mempertimbangkan kembali prioritas mereka.
Perusahaan yang tidak dapat menyediakan work-life balance yang memadai sering kali kehilangan karyawan Gen Z yang memilih untuk resign dan mencari tempat yang lebih baik dalam menjaga keseimbangan hidup mereka.
Share this article
Salah satu fenomena yang menarik perhatian dari Gen Z adalah kecenderungan mereka untuk sering berpindah-pindah pekerjaan atau resign.