AYOJAKARTA.COM - Emotional Quotient atau Kecerdasan Emosi adalah kemampuan mengelola dan mengendalikan emosi diri dan orang di sekitarnya.
Menurut sejumlah pakar di bidang perilaku manusia, kecerdasan emosi berkontribusi hingga mencapai empat puluh persen dalam kehidupan seseorang.
Pada kajian tentang kecerdasan emosi yang disampaikan Dr Fahrudin Faiz dalam Ngaji Filsafat, dikutip Ayojakarta.com dari kanal You Tube MJS Channel menyebutkan ciri-cirinya.
Baca Juga: Viral! Video Debat Istri SAH AKBP Aris Rusdiyanto Kapolres Muara Enim dengan Selingkuhan Suaminya
Cenderung mencari kesalahan diluar dirinya, orang dengan ciri kecerdasan emosi rendah akan sulit menerima kesalahan diri, sehingga mencari kesalahan pada orang lain.
Kesulitan atau bahkan tidak mampu mengungkapkan isi perasaan, menjadikan orang di sekitarnya mengalami kebingungan.
Suka menyerang, menginterupsi, melabeli seseorang jika dianggap akan bisa merusak kenyamanan dirinya.
Sering memberi analisis rasional secara berlebih terhadap suatu keadaan, dan menuntut agar dipercaya oleh lawan bicaranya.
Baca Juga: Waduh! Rizky Billar Sebut Ayah Lesti Kejora Tidak Salah Pilih Mantu, Usai Berdamai Soal Kasus KDRT
Berfikiran manipulatif dan sering berdusta tentang isi perasaan atau emotional dishonesty, sehingga orang lain mempercayainya.
Orang dengan kecerdasan emosi rendah memiliki kecendrungan menjadi pendengar yang buruk, sehingga gemar berdebat untuk mencari siapa yang kalah dan siapa menang.
Cenderung melebih-lebihkan atau mengecilkan perasaan, sehingga sering mendramatisir hal yang sebenarnya biasa-biasa saja, hal besar disepelekan dan hal kecil dibesarkan.
Tidak peka terhadap perasaan orang lain, sehingga selalu minta untuk dipahami tanpa mencoba memahami orang di sekitarnya.
Sering merasa insecure, akibat sukar menerima kesalahan diri sendiri dan menjadikannya berat untuk meminta maaf.
Baca Juga: Kronologi Kakak Ipar Taqy Malik Digosipkan Nikahi Pria Beristri, Sempat Adu Mulut: Akui Sudah Izin
Pesimis, pengeluh dan merasa dunia tidak adil pada dirinya, bahkan terkadang sampai menyalahkan Tuhan.
Sukar beradaptasi dengan perubahan-perubahan dalam hidup, sehingga memiliki kebiasaan bersikap kaku dan mudah marah.
Kesulitan dalam bersikap harmonis dengan manusia sekitar, namun justru sangat harmonis dengan hewan, maupun benda kesayangan.
Merasa puas jika sudah mengalahkan atau menyalahkan orang lain, meski terkadang dilakukan dengan cara tidak terpuji.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Rabu 19 Oktober 2022: Semua Wilayah Ibu Kota Hujan di Siang Hari
Tidak mampu membaca isyarat-isyarat atau bahasa non verbal dalam suatu situasi, sehingga menjadi pribadi yang tidak peka dan mati rasa.
Sementara orang dengan kecerdasan emosi yang baik, biasanya memiliki ciri kebalikannya.
Dosen filsafat di UIN Sunan Kalijaga kelahiran Mojokerto 16 Agustus 1975 juga mengingatkan, bahwa kecerdasan emosi bukanlah harga mati, sebab dimensi bathin setiap manusia itu sangat luas.
Jika ada seseorang yang saat ini masih memiliki ciri kecerdasan emosi rendah, ia tetaplah berpeluang besar untuk bisa berubah. ***

Share this article
Menurut sejumlah pakar di bidang perilaku manusia, kecerdasan emosi berkontribusi hingga mencapai empat puluh persen dalam kehidupan.