AYOJAKARTA.COM - Dilansir dari web Medical News Today, kadar gula darah dan trigliserida yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan gangguan stres di masa depan.
Sebaliknya, kadar lipoprotein densitas tinggi atau kolesterol 'baik' yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko depresi, kecemasan, dan gangguan stres yang lebih rendah di masa depan.
Beberapa orang lebih mungkin mengalami kondisi kesehatan mental kronis seperti kecemasan dan depresi dibandingkan orang lain.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Kepribadianmu berdasarkan Genre Buku Favoritmu
Ketika dokter mengidentifikasi siapa yang lebih berisiko dan menemukan faktor penyebabnya, hal ini dapat membantu memberikan pengobatan dini dan mencapai hasil kesehatan yang positif.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Network Open meneliti beberapa biomarker dan bagaimana hal itu dikaitkan dengan risiko peserta mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan stres.
Para peneliti melihat data dari lebih dari 211.000 peserta. Mereka menemukan bahwa kadar gula darah dan trigliserida yang lebih tinggi – sejenis lemak darah – dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit mental 20 tahun sebelum diagnosis.
Baca Juga: Jadwal Ganjil Genap Arus Balik Mudik Lebaran 2024, Catat Tanggal dan Jamnya
Sebaliknya, para peneliti menemukan bahwa memiliki kadar kolesterol ‘baik’ yang lebih tinggi tampaknya memberikan perlindungan terhadap penyakit mental ini.
Hasilnya menunjukkan pentingnya pemantauan biomarker metabolik ini dan tindak lanjut rutin sehingga orang dapat menerima diagnosis penyakit mental dengan cepat.
Meskipun temuan ini menarik, penelitian ini memiliki keterbatasan. Penelitian ini dilakukan pada populasi tertentu, sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan pada populasi lain.
Penelitian di masa depan dapat memasukkan demografi yang lebih beragam dalam sampel mereka untuk mengkonfirmasi temuan penelitian ini.
Salah satu analisis sensitivitas yang memeriksa biomarker tertentu menemukan bahwa kadar kolesterol ‘jahat’ dan kolesterol total yang lebih tinggi serta faktor-faktor lain dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit mental.
Temuan analisis sensitivitas ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut, meskipun kesimpulan mengenai gula darah dan trigliserida tetap konsisten dengan temuan utama penelitian.
Ada risiko lebih lanjut terjadinya bias deteksi karena dokter lebih cenderung memantau individu dengan tingkat biomarker abnormal.
Tapi sebagai temuan awal, hal ini cukup menarik mengingat tingginya gula darah adalah penyebab utama gangguan kesehatan fisik dan termasuk ke dalam penyakit yang mematikan.
***

Share this article
Beberapa orang lebih mungkin mengalami kondisi kesehatan mental kronis seperti kecemasan dan depresi dibandingkan orang lain.