AYOJAKARTA.COM -– Sebagian masyarakat Jawa mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah lebaran kupat.
Lebaran kupat merupakan salah satu tradisi masyarakat muslim setelah Hari raya Idul Fitri.
Diketahui, lebaran kupat biasanya dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Lalu, bagaimana sejarah lebaran kupat bisa menjadi budaya?
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Rjb Kudus Channel pada Kamis (27/4/2023), tradisi lebaran kupat pertama kali diperkenalkan ke masyarakat jawa oleh salah satu waliyullah tanah Jawa.
Waliyullah tanah Jawa tersebut bernama Raden Mas Syahid atau yang kerap dikenal dengan sebutan Kanjeng Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga lahir di Tuban pada tahun 1450 M dan wafat pada tahun 1513 M di Kadilangu Demak.
Sosok Sunan Kalijaga lah yang membudayakan tradisi kupat menjadi dua ba’da (setelah).
Yang pertama adalah ba’da Ramadan (puasa) dan ba’da 7 hari setelah Idul Fitri.
Makna mendalam lebaran kupat
Diketahui, kupat memiliki makna yang berasal dari istilah Jawa yang merupakan kependekan dari kata Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku Lepat memiliki arti mengakui kesalahan, sementara Laku Papat berarti empat tindakan, perlakuan, atau rangkaian kegiatan.
Tradisi yang dilakukan Ngaku Lepat adalah seperti berjabat tangan, sungkeman, minta maaf, saling memaafkan, dan silaturahmi.
Sungkeman adalah tradisi yang merupakan implementasi dari mengakui kesalahan (Ngaku Lepat) bagi orang Jawa.
Tradisi sungkeman mengajarkan bahwa penting sekali untuk menghormati kedua orang tua, bersikap rendah hati, serta memohon ampunan kepada sesama.
Kemudian, Laku Papat memiliki empat arti yang berbeda yakni lebaran, luberan, leburan, dan juga laburan.
Baca Juga: Ngakak! Tragedi Hari Raya Saat Foto Bersama, Malunya Sampai Idul Fitri Tahun Depan
Lebaran adalah usainya seseorang melaksanakan kewajiban ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh.
Kemudian luberan berarti berlebih atau melimpah, ini merupakan ajakan untuk saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan seperti dengan sedekah dan zakat.
Sementara leburan memiliki arti saling melebur atau saling memaafkan sesame.
Sedangkan laburan berasal dari kata labur yang biasa digunakan untuk memopok dinding, lantai bolong atau rusak, merekatkan bangunan.
Dengan demikian, setelah melakukan tiga tindakan tadi dan yang keempat merupakan pamungkas.
Adanya istilah laburan ini terdapat suatu harapan agar semua manusia bisa semakin baik dan memiliki iman yang kokoh, dan semakin eratnya tali persaudaraan.***(Nisrina Harum Lestari)

Share this article
Sebagian masyarakat Jawa mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah lebaran kupat, khususnya di tanah Jawa.