AYOJAKARTA.COM - Di media sosial, berita tentang perselingkuhan biasanya cepat menjadi viral, khususnya yang melibatkan tokoh perempuan sebagai pelakor.
Meski semua orang sudah menyadari konsekuensi negatif dari selingkuh, tetapi tetap saja kasus perselingkuhan marak terjadi di sekitar kita.
Selalu ada berita baru tentang perselingkuhan, seolah-olah mereka tidak belajar dari kesalahan yang dilakukan orang lain.
Baca Juga: Tes Kepribadian : Tebal, Tipis atau Melengkung Bentuk Alismu. Akan Ungkap Rahasia Terdalammu
Melalui akun Instagram @santi_psychiatrist, dokter Santi menjelaskan bahwa selingkuh diawali oleh sesuatu yang dinamakan lust.
Lust adalah kekuatan psikologis yang menghasilkan hasrat yang kuat terhadap sesuatu, atau keadaan, padahal sudah memiliki objek yang diinginkan dalam jumlah besar.
Lust bisa berbentuk apa saja seperti nafsu terhadap seksualitas, uang, atau kekuasaan.
Dokter Santi menolak anggapan bahwa seseorang selingkuh karena adanya kekurangan pada pasangannya.
Menurut dokter Santi, orang yang berselingkuh disebabkan ketidakmampuannya mengendalikan lust, bukan kekurangan pasangannya.
Lust bukan semata hasrat seksual, melainkan juga hasrat terhadap objek lain, seperti situasi, emosi, posisi, bahkan termasuk makanan.
Rasa ingin menjadi orang yang berkuasa di kantor, itu juga lust. Termasuk menguasai orang lain meskipun orang tersebut sudah menjadi milik orang lain.
Orang yang dikuasai lust tidak selalu memikirkan seks, bagi mereka yang penting bisa menang dibandingkan orang lain.
Ketika berhasil mendapatkan perhatian dari perempuan yang sudah bersuami, dia merasa menang. Begitu juga sebaliknya.
Baca Juga: Mau Ajukan Pinjaman KUR BRI? Simak Dulu Aturan Terbaru KUR BRI Tahun 2024, Awas Jangan Sampai Salah!
Makanya, jangan heran ketika ada seorang perempuan muda yang cantik menggoda bapak-bapak yang tidak tampan maupun mapan.
Itu terjadi karena perempuan muda itu tidak sanggup mengendalikan lust dalam dirinya. Dia merasa menang dengan menguasai suami orang lain.
Jadi, dalam perselingkuhan, korban bukan hanya pasangan atau keluarga pelaku, tetapi kedua pelaku itu sendiri adalah korban: korban ketidakmampuan mengendalikan lust, dan korban dari orang yang ingin menguasai orang lain.
***

Share this article
Di media sosial, berita tentang perselingkuhan biasanya cepat menjadi viral, khususnya yang melibatkan tokoh perempuan sebagai pelakor.