AYOJAKARTA.COM - Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri, momentum silaturahmi akbar yang salah satu aktivitas di dalamnya adalah saling memaafkan.
Tahukah kamu bahwa memaafkan, jika dilakukan dengan benar, dapat menghasilkan kesehatan mental, emosional, dan bahkan fisik yang lebih baik bagi orang yang memaafkan.
Ya, bagi orang yang memaafkan, bukan bagi orang yang meminta maaf!
Demikian pendapat Robert Enright, PhD, profesor psikologi dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, yang dilansir dari web American Psychological Association (APA).
Baca Juga: Alhamdulillah Setelah Bansos PKH Tahap 2 Cair di 4 Bank, BPNT Segera Menyusul
Dalam rekaman wawancaranya yang dipublikasikan di web APA, Enright menyatakan bahwa seringkali kemarahan yang tidak sehat menyelinap ke dalam hati kita dan kita bahkan tidak menyadarinya.
Dengan tetesan kemarahan tersebut ke dalam hati bisa berubah menjadi kecemasan bahkan depresi dan bahkan rendah diri, tidak menyukai diri sendiri.
Ketika kamu mengulurkan tangan untuk memberi maaf, secara paradoks, tetesan kemarahan itu mulai melambat dan sebagai gantinya, kamu mulai memiliki penangkal racun kemarahan.
Hal itu bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan efek trauma dan kecemasan serta depresi dan kamu mendapatkan hidupmu kembali.
Baca Juga: Kesal Tak Digubris, Rismon Sianipar Ajak Publik Menelanjangi Pelaku Rekayasa Kasus Jessica Wongso
Memaafkan sebenarnya tidak perlu menunggu momentum tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri, dan seharusnya bisa dilakukan kapanpun dan sesegera mungkin.
Menyimpan kemarahan di dalam hati hanya akan menggerogoti kesehatan mentalmu sendiri, sementara orang yang menyakitimu tidak merasakan apa-apa dari kemarahanmu.
Tetapi menurut Enright, melibatkan orang yang menyakitimu dalam memberikan maaf juga merupakan hal yang tidak perlu.
Kamu tidak perlu menemui orang yang menyakitimu kemudian mengatakan kepadanya bahwa kamu sudah memaafkannya.
Alih-alih mempercepat penyembuhan luka batinmu, tindakan seperti ini bisa menjadi kontraproduktif dan membuka peluang baru untuk disakiti.
Memaafkan sejatinya membebaskan dirimu dari kungkungan kemarahan akibat perbuatan orang lain.
Tidak ada orang yang membebaskanmu dari jebakan emosi negatifmu kecuali dirimu sendiri.
Jadi, maafkanlah kesalahan orang lain, dengan atau tanpa permintaan maaf dari mereka karena memaafkan sejatinya adalah upayamu untuk membebaskan dirimu terlebih lagi di Hari Raya, hari dibebaskannya orang-orang yang berpuasa dari api nereka.
***

Share this article
Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri, momentum silaturahmi akbar yang salah satu aktivitas di dalamnya.