AYOJAKARTA.COM - Tidak bisa dipungkiri, trauma atau luka masa lalu sebagian besar kita justru didapatkan dari orang tua kita sendiri.
Luka inilah yang mengendap menjadi inner child yang ada di dalam diri kita saat ini, saat kita telah dewasa atau bahkan telah memiliki anak.
Psikolog Twelvi Febriana melalui akun TikTiknya @twelvifebrina, menjelaskan bahwa kita harus mengenali inner child yang ada di dalam diri kita.
Tujuannya bukan untuk menyalahkan orang tua kita dulu, tetapi mencari solusi terbaik agar luka ini tidak kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Mengedukasi diri kita tentang luka inner child kita bukan berarti kita akan fokus menyalah-nyalahkan apalagi dendam sama orang tua kita.
Tapi justru sebaliknya, dengan mengedukasi diri kita kenapa kita punya pola negatif di hidup dewasa.
Dengan mengetahui asal-usulnya, kita bisa mencari solusi terbaik dan solusi tertepat untuk mengatasinya dan memulai transformasi kehidupan dewasa kita.
Baca Juga: 10 Cara Memiliki Inner Beauty yang Kuat agar Kamu Lebih Menawan, Apa Saja?
Selain itu, dengan mulai mengedukasi diri kita dan mencari solusinya, kita juga akan belajar bahwa orang yang menyakiti itu disakiti oleh orang lain.
Jadi, kita juga belajar bahwa orang tua kita yang menjadi sumber luka masa kecil kita adalah juga anak-anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.
Mereka dulu juga dilukai oleh orang-orang dewasa yang mengasuh mereka.
Jadi, ini sudah seperti mata rantai yang diwariskan turun-temurun dan setiap hari kita semua punya pilihan untuk memutuskan rantai itu berhenti di kita.
Atau, kita membiarkannya, mengabaikannya dan kita wariskan ke anak-anak kita.
Semua ada di tangan kita.
***

Share this article
Tidak bisa dipungkiri, trauma atau luka masa lalu sebagian besar kita justru didapatkan dari orang tua kita sendiri.