AYOJAKARTA.COM - Dikutip dari akun TikTok @katapsikologi, hanya dengan satu kalimat dari ayahnya, seorang bocah lelaki berusia 14 tahun memutuskan untuk kabur dari rumah.
Kisah ini terungkap ketika anak laki-laki tersebut bersama orang tuanya datang menemui psikolog.
Orang tuanya tidak memberi tahu putra mereka tentang kunjungan tersebut, hanya menyebutkan bahwa mereka akan mengunjungi seorang teman.
Ketika anak laki-laki itu menyadari bahwa mereka sedang menghadiri sesi konseling, dia terdiam.
Anak laki-laki itu telah berjuang selama beberapa waktu. Pada usia 12 tahun, ia masuk pesantren, namun kabur pada usia 14 tahun.
Orang tuanya kemudian memindahkannya ke sekolah biasa, namun ia kembali melarikan diri, lebih memilih ditemani anak-anak jalanan yang tidak bersekolah dan tidak mengikuti norma-norma masyarakat.
Orang tuanya, yang khawatir dengan masa depannya, memutuskan untuk mencari konseling.
Kekhawatiran utama orang tua adalah keengganan anak mereka untuk tinggal di rumah atau sekolah.
Dia terus-menerus mencari kebebasan, menolak segala bentuk pengurungan.
Meskipun ada upaya dari orang tuanya, terutama ibunya, untuk berkomunikasi dengannya, anak tersebut tetap diam dan tidak tanggap.
Selama sesi tatap muka, anak laki-laki itu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Dia selalu diam, bahkan sebelum masalahnya dimulai.
Baca Juga: Fresh Graduate Merapat! Berikut Panduan Penting Persiapan Seleksi CPNS 2024
Pada usia 12 tahun, gurunya merekomendasikan agar dia menekuni renang, karena dia menunjukkan bakat yang luar biasa.
Anak laki-laki itu sangat gembira dengan prospek ini dan membagikannya kepada orang tuanya. Namun, mereka menolak cita-citanya dan malah mendaftarkannya ke pesantren, tempat di mana ia merasa asing.
Bocah itu bertahan di pesantren selama dua tahun sebelum melarikan diri. Ketika dia kembali ke rumah, dia ditempatkan di sekolah biasa, tetapi siklus melarikan diri terus berlanjut.
Akar kesedihannya berasal dari satu kalimat yang diucapkan ayahnya ketika anak laki-laki itu mengungkapkan keinginannya untuk berenang: "Jika kamu tidak mendengarkan, silakan kamu pergi dari rumah."
Baca Juga: 4 Prospek Kerja Teknik Informatika yang Paling Menjanjikan, Apa Saja?
Kalimat ini menghantuinya, menimbulkan kebencian yang mendalam terhadap ayahnya.
Meskipun ayahnya mencarinya setiap kali dia melarikan diri, anak laki-laki itu tetap bingung. Dia pikir ayahnya bersungguh-sungguh dengan perkataannya, jadi mengapa dia mencarinya?
Kebingungan dan perasaan tidak didengarkan ini membuat anak laki-laki itu percaya bahwa suara dan keinginannya tidak penting.
Sang ayah, setelah menyadari dampak dari perkataannya, merasa sangat bersalah. Dia berbicara karena frustrasi, tidak bermaksud untuk menyakiti putranya, tetapi untuk membuatnya patuh.
Baca Juga: Tes Penglihatan: Yakin dengan Ketajaman Mata yang Kamu Miliki? Coba Temukan Mobil yang Berbeda
Psikolog menyarankan sang ayah mengubah pendekatannya dan berupaya membangun kembali kepercayaan dan hubungan dengan putranya.
Kisah ini menjadi pengingat yang menyentuh bagi para orang tua: kata-kata itu penting. Apa yang kita katakan kepada anak-anak kita dapat mempunyai dampak yang bertahan lama, membentuk pikiran, perasaan, dan tindakan mereka.
Kata-kata positif bisa membangkitkan semangat dan menginspirasi, sedangkan kata-kata negatif bisa menimbulkan luka yang dalam. Sangat penting untuk berbicara dengan hati-hati, memastikan kata-kata kita bersifat mendidik dan bukan merugikan.
Nah, terbukti kan kata orang tua dulu kalau perkataan adalah doa. Jadi, mulai dari sekarang biasakan berkata-kata yang baik-baik saja.
Baca Juga: Tes IQ Ilusi Optik: Temukan Rumah Burung yang Berbaur dengan Orang-orangan Sawah, Apa Kamu Jeli?
Ingat, berkatalah yang baik, atau diam!.***

Share this article
Perkataan orang tua kepada anaknya yang cenderung asal atau tanpa disaring ternyata bisa berakibat fatal lho menurut psikolog!