AYOJAKARTA.COM - Banyak orang yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak mereka sendiri pernah mengalami kekerasan oleh orang tua mereka.
Namun, menurut psikolog klinis Ferdian Permana di akun TikTok @katapsikologi, tidak semua orang yang mengalami kekerasan di masa kecil melanjutkan kekerasan terhadap anak-anak mereka sendiri.
Mari kita dalami masalah yang rumit ini dan pahami aspek dalam edukasi psikologi yang mendasarinya.
Apa itu Kekerasan?
Kekerasan melibatkan penganiayaan yang disengaja terhadap orang lain. Penganiayaan ini dapat berupa verbal, emosional, psikologis, atau fisik.
Kekerasan dapat mencakup manipulasi, kekerasan fisik, dan perilaku berbahaya lainnya yang dimaksudkan untuk menyebabkan rasa sakit dan penderitaan fisik atau emosional.
Siklus Kekerasan
Orang yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak mereka sering kali memiliki riwayat pernah mengalami kekerasan.
Baca Juga: 5 Kekerasan Mental yang Sering Dilakukan dan Dianggap Normal, Pernah Mengalaminya?
Siklus kekerasan dapat dijelaskan melalui dua pelajaran utama yang dipelajari dari kejadian di masa kecil:
1. Identifikasi dengan Pelaku Kekerasan: Beberapa individu mengidentifikasi diri dengan orang tua mereka yang kasar.
Mereka membenarkan tindakan orang tua mereka dan secara tidak sadar mengulangi perilaku yang sama karena mereka melihat orang tua mereka sebagai sarana untuk bertahan hidup.
Mereka menganggap orang tua mereka sebagai panutan, meskipun orang tua tersebut kasar.
2. Penolakan terhadap Perilaku Pelaku Kekerasan: Orang lain menolak perilaku kasar orang tua mereka.
Mereka mengembangkan kesadaran akan dampak negatif kekerasan dan membuat pilihan yang disengaja untuk tidak mengulangi perilaku ini pada anak-anak mereka sendiri.
Penolakan ini membantu mereka untuk memutus siklus kekerasan dan memilih jalan yang berbeda.
Baca Juga: 5 Tanda Peringatan Kekerasan Emosional dalam Hubungan, Segera Sadar Sebelum Terlambat!
Kekuatan Pilihan
Mengalami kekerasan di masa kecil tidak serta merta menyebabkan mereka menjadi pelaku kekerasan.
Orang memiliki kemauan untuk memilih untuk tidak mengulangi pola kekerasan yang mereka alami.
Memahami hal ini memberi individu kekuatan untuk mengendalikan hidup dan keputusan mereka, daripada dikendalikan oleh masa lalu mereka.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku Kasar
Bahkan jika seseorang tidak mengalami kekerasan saat masih anak-anak, mereka tetap dapat menjadi pelaku kekerasan karena faktor-faktor lain, seperti:
- Gangguan Kepribadian: Kondisi seperti gangguan kepribadian antisosial atau gangguan kepribadian narsistik dapat menyebabkan perilaku kasar.
- Penyalahgunaan Zat: Masalah dengan alkohol atau narkoba juga dapat menyebabkan tindakan kasar.
Baca Juga: Tanda Kamu Mengalami Kekerasan Emosional dalam Hubungan, Yuk Cari Tahu di Sini
Kesimpulan
Memutus siklus kekerasan memerlukan kesadaran dan upaya yang sadar. Memahami akar psikologis dari perilaku kekerasan memberdayakan individu untuk membuat pilihan yang berbeda.
Penting untuk diingat bahwa masa lalu kita tidak harus menentukan masa depan kita.
Dengan mengendalikan tindakan dan keputusan kita, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan lebih berbelas kasih bagi diri kita sendiri dan generasi mendatang.***

Share this article
Edukasi psikologi kali ini tentang bagaimana memutus siklus kekerasan pada anak hingga mengatasai trauma masa kecil.