AYOJAKARTA.COM – Stres pada anak hampir sama seperti yang dialami oleh orang dewasa pada umumnya, karena ini berasal dari tuntutan eksternal dan internal dalam diri mereka.
Stres pada anak dapat muncul dari tuntutan yang berasal dari lingkungan sekitar seperti orang tua, sekolah, maupun lingkungan sosial.
Selain itu, rasa stres juga dapat muncul dari dalam diri sendiri ketika adanya perbedaan antara hal yang ingin dicapai dengan kemampuan diri sendiri.
Baca Juga: Buruh Demo Minta UMP DKI Jakarta 2022 Jadi Rp 5,4 Juta, Ini Kata Menaker Ida Fauziyah
Pasalnya anak-anak memang belum cukup umur untuk makan asam garam kehidupan, tetapi bukan berarti ia tidak bisa stres.
Stres bisa saja terjadi pada anak-anak, terlebih karena ia belum mengerti bagaimana cara efektif untuk menyelesaikan suatu masalah dalam hidupnya.
Mengutip dari @newidapsikiater Rabu (16/11) dimana ada beberapa tanda stres pada anak seperti berikut:
- Perubahan Emosi merupakan suatu gangguan yang dialami oleh anak karena ia mudah marah, mudah tersinggung, mudah menangis dan masih banyak rasa yang membuat dia mengalami pergolakan batin yang membuat dia tidak nyaman dan menjadi lebih sensitif dari biasanya. Bukan hanya itu saja, dimana perkembangan kognitif anak dan perkembangan sosial anak juga dapat ikut terkena dampak dari stres.
- Perubahan perilaku bisa dalam bentuk perubahan sikapnya yang menjadi bandel atau nakal yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian orang sekitarnya.
- Penurunan prestasi belajar dimana anak akan sulit fokus untuk belajar dan ini berdampak pada prestasi di sekolah yang biasanya bagus menjadi kurang karena stres.
- Keluhan fisik ini terjadi ketika anak-anak mengalami sakit. Jika stres yang muncul sudah begitu serius, anak biasanya mengalami gejala-gejala fisik seperti sakit perut, sakit kepala, atau pusing.
- Malingering merupakan suatu sifat dimana anak-anak bisa berpura-pura sakit untuk menghindari kewajibannya sebagai anak.
Adapun sumber stres yang dapat berdampak buruk pada anak merupakan jenis stres yang dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan, cedera, ataupun sakit yang di luar kemampuan mereka untuk menghadapinya.

Share this article
Pasalnya anak-anak memang belum cukup umur untuk makan asam garam kehidupan, tetapi bukan berarti ia tidak bisa stres. Begini gejalanya