AYOJAKARTA.COM - Ketegangan global kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika jalur vital tersebut tidak dibuka dalam waktu 48 jam.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam dari waktu tepat ini, AS akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu," tulis Donald Trump di platform media sosial Truth Social pada 21 Maret pukul 19.44 waktu Amerika Serikat.
Ancaman ini menjadi titik eskalasi terbaru di tengah konflik yang melibatkan Israel dan sekutunya.
Trump menegaskan bahwa jika Iran gagal memenuhi tuntutan tersebut, maka fasilitas listrik utama, dimulai dari yang terbesar akan menjadi target serangan militer Amerika Serikat.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati wilayah ini setiap harinya.
Gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada lonjakan harga energi global, termasuk minyak dan gas.
Sejak awal Maret, distribusi energi melalui jalur ini terganggu, memicu kekhawatiran krisis energi global.
Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk.
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap tegas. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran tidak akan menahan diri jika infrastruktur strategis mereka diserang.
Bahkan, militer Iran memperingatkan bahwa seluruh fasilitas energi milik AS di kawasan Timur Tengah bisa menjadi sasaran balasan.
Konflik semakin melebar setelah serangan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Iran, termasuk Teheran, Karaj, Isfahan, hingga fasilitas nuklir Natanz.
Dilansir dari Aljazeera, Iran juga meluncurkan serangan ke wilayah selatan Israel, termasuk kota Dimona dan Arad, yang menyebabkan puluhan korban luka.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut situasi ini sebagai “malam pertempuran yang sulit” dan menegaskan serangan akan terus berlanjut.
Ketegangan ini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga global. Serangan rudal jarak jauh Iran bahkan disebut memiliki jangkauan hingga 4.000 km, berpotensi mengancam kota-kota besar di Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.
Selain itu, konflik juga mulai merembet ke kawasan lain, termasuk Lebanon, setelah serangan yang menargetkan kelompok Hizbullah.
Dunia Terancam Krisis Energi
Dengan terganggunya Selat Hormuz, pasar energi dunia berada dalam tekanan besar.
Kenaikan harga minyak dan gas sudah mulai terasa, dan berpotensi semakin melonjak jika konflik terus berlanjut.
Bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, kondisi ini bisa berdampak langsung pada harga bahan bakar dan kebutuhan pokok.
Ultimatum 48 jam dari Donald Trump menandai fase baru konflik yang semakin berbahaya.
Dengan Selat Hormuz sebagai pusat perebutan kepentingan, dunia kini menghadapi risiko krisis energi global yang nyata.
Jika tidak ada deeskalasi dalam waktu dekat, konflik ini berpotensi meluas dan membawa dampak ekonomi serta geopolitik yang jauh lebih besar.***
Share this article
Trump beri ultimatum 48 jam bagi Iran buka Selat Hormuz atau pembangkit listriknya hancur. Konflik meluas hingga serangan ke Israel dan ancaman krisis energi global karena pasokan minyak terganggu.