AYOJAKARTA.COM - Lonjakan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan energi alternatif.
Salah satu yang kini didorong adalah produksi Bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) guna mengurangi ketergantungan impor energi.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menilai bioetanol memiliki potensi besar karena bahan bakunya melimpah di dalam negeri, seperti tebu, jagung, dan singkong.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengembangan bioetanol menjadi bagian penting dari strategi transisi energi nasional.
Menurutnya, tiga komoditas utama yakni tebu, jagung, dan singkong dipilih karena memiliki basis produksi yang kuat di berbagai wilayah Indonesia.
Pemerintah juga membuka peluang pengembangan bahan baku lain seperti aren dan sorgum di daerah yang memiliki potensi.
Ketahanan Energi Jadi Prioritas
Lonjakan harga minyak dunia yang menembus lebih dari 100 dolar AS per barel akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi pengingat pentingnya diversifikasi energi.
Direktur Proyek dan Operasi di Pertamina New & Renewable Energy, Norman Ginting, menilai ketahanan energi tidak boleh bergantung pada satu sumber atau wilayah produksi.
“Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi strategi untuk memastikan kedaulatan energi nasional,” ujarnya.
Saat ini pemerintah telah menjalankan program biodiesel B35 dan menargetkan peningkatan hingga B40 bahkan B50 dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara untuk bioetanol, pemerintah menargetkan program pencampuran bahan bakar E5 meningkat menjadi E10 pada 2028.
Peran Impor dan Industri Domestik
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa impor bioetanol tetap dimungkinkan untuk menutup selisih antara kebutuhan dan produksi domestik.
Menurutnya, bioetanol yang diimpor harus memiliki tingkat kemurnian sangat tinggi, yakni 99,9 persen, agar dapat digunakan dalam berbagai sektor industri, mulai dari campuran BBM hingga bahan baku kosmetik.
Namun di sisi lain, pelaku industri nasional meminta agar kebijakan impor tetap dikendalikan agar tidak merugikan produsen dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Spiritus dan Etanol Indonesia, Izmirta Rachman, menyatakan industri lokal siap mendukung program pencampuran E10 yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
Saat ini kapasitas produksi bioetanol nasional sekitar 75.000 kiloliter per tahun dengan realisasi produksi sekitar 60 ribu kiloliter pada 2025.
Jika program mandatori E10 berjalan penuh, kebutuhan bioetanol diperkirakan meningkat tajam.
Karena itu pemerintah harus menyeimbangkan antara peluang kerja sama perdagangan internasional dan penguatan industri bioetanol dalam negeri.
Dengan strategi tersebut, bioetanol diharapkan tidak hanya menjadi energi alternatif, tetapi juga senjata baru Indonesia dalam menghadapi gejolak harga minyak dunia sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.***
Share this article
Pemerintah percepat bioetanol dari tebu, jagung, dan singkong guna tekan impor BBM & hadapi lonjakan harga minyak dunia. Target mandatori E10 pada 2028 demi kedaulatan energi.