AYOJAKARTA.COM - Konflik panas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memakan korban jiwa.
Di tengah simpang siur kabar negosiasi damai, serangan udara terbaru justru menghantam kawasan sipil di selatan Teheran dan menewaskan sedikitnya 12 orang.
"Sedikitnya 12 orang tewas dan 28 lainnya luka-luka dalam serangan musuh di daerah pemukiman Varamin di selatan Teheran," kata pihak Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh Kantor Berita Fars, dilansir dari AFP.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Teheran yang menyebutnya sebagai “berita palsu”.
Di saat narasi diplomasi diperdebatkan, fakta di lapangan menunjukkan eskalasi militer justru semakin intens.
Serangan udara yang dilaporkan terjadi di kawasan Varamin, selatan Teheran, menyebabkan 12 orang tewas dan 28 lainnya mengalami luka-luka.
Otoritas Iran menyebut serangan itu menghantam area permukiman warga sipil.
Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan yang menargetkan infrastruktur strategis di ibu kota Iran.
Situasi ini mempertegas kontras tajam antara klaim diplomasi dan realitas konflik bersenjata.
Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, korban jiwa di Iran telah mencapai lebih dari 1.500 orang, dengan puluhan ribu lainnya terluka.
Tak hanya Iran, serangan balasan juga dilancarkan ke wilayah Israel. Rudal Iran dilaporkan menghantam kota Bnei Brak, dekat Tel Aviv, menyebabkan belasan orang terluka, termasuk warga sipil dan anak-anak.
Ledakan juga memicu kerusakan bangunan di wilayah tersebut. Konflik ini bahkan meluas ke negara-negara kawasan Teluk.
Serangan drone dilaporkan menargetkan fasilitas di Kuwait, sementara Arab Saudi berhasil mencegat rudal balistik yang mengarah ke wilayahnya.
Di Yordania, ratusan pecahan rudal dilaporkan jatuh di berbagai lokasi meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Eskalasi ini menandai konflik yang semakin kompleks dan melibatkan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.
Serangan tidak lagi terbatas pada target militer, tetapi juga berdampak langsung pada infrastruktur sipil dan masyarakat umum.
Ketidakjelasan arah diplomasi pun menimbulkan pertanyaan besar di tingkat global.
Di satu sisi, pernyataan tentang negosiasi masih digaungkan oleh Washington. Namun di sisi lain, operasi militer terus meningkat tanpa tanda-tanda mereda.
Jika situasi ini terus berlanjut, bukan hanya stabilitas kawasan yang terancam, tetapi juga keamanan global, termasuk potensi krisis energi dan kemanusiaan yang lebih luas.
Dunia kini menanti, apakah jalur diplomasi benar-benar akan diambil, atau justru konflik ini akan semakin meluas tanpa kendali.***

Share this article
Serangan AS-Israel di Teheran tewaskan 12 warga saat Trump klaim ada negosiasi. Iran sebut itu "hoaks". Konflik Maret 2026 ini meluas ke Kuwait & Saudi, mengancam stabilitas energi serta global.