AYOJAKARTA.COM – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa setelah serangan bom Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan, diplomasi tidak lagi berlaku karena negaranya telah diserang secara langsung.
Dalam pernyataannya, Menlu Iran menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Iran dan menunjukkan bahwa pendekatan diplomatik yang selama ini diupayakan telah gagal akibat tindakan militer AS.
Iran menegaskan akan mengambil langkah tegas sebagai respons atas serangan ini tanpa ada diplomasi.
“tidak ada diplomasi, negara kami telah diserang, ini hak kami untuk membela diri,” ungkap Abbas Araghchi, Menlu Iran, yang dikutip AYOJAKARTA.COM dari YouTube Kompas TV Jawa Timur pada Selasa (24/06/2025)
Saat ini fokus Iran adalah mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional setelah serangan yang dianggap agresi tersebut.
Iran kini memiliki daftar target yang mencakup sekitar 20 pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Negara tersebut berpotensi melancarkan serangan berkelompok menggunakan rudal balistik, drone, dan kapal torpedo cepat terhadap instalasi militer dan kapal perang AS sebagai respons atas agresi tersebut.
Iran juga mengatakan bahwa konflik ini akan melibatkan kelompok proksi dan sekutunya di wilayah Timur Tengah untuk melakukan serangan terhadap kepentingan AS dan Israel.
Tak hanya itu, sebagai bentuk tekanan strategis, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak dunia yang sangat vital, untuk membalas serangan AS dan Israel.
Penutupan ini diketahui, dapat mengganggu pasokan energi global dan memberikan tekanan ekonomi besar terhadap negara-negara pengimpor minyak.
Secara singkat, Iran tidak menerima diplomasi dan akan membalas serangan AS dan Israel dengan kekuatan militer yang signifikan, termasuk serangan rudal dan drone ke Israel, ancaman terhadap pangkalan AS, serta kemungkinan penutupan Selat Hormuz. ***

Share this article
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, menegaskan diplomasi tidak lagi berlaku karena negaranya telah diserang secara langsung