AYOJAKARTA.COM - Dalam pembahasan yang disampaikan oleh Buya Yahya, seorang ulama yang dikenal luas di Indonesia.
Dijelaskan dengan rinci tentang pemahaman yang sering keliru terkait pelaksanaan salat Witir di bulan Ramadan.
Buya Yahya menjawab pertanyaan jamaah mengenai posisi salat Witir dan salat Tahajud, terutama ketika seseorang telah melaksanakan salat Isya dan Tarawih yang ditutup dengan Witir, kemudian ingin melaksanakan salat Tahajud pada malam harinya.
Menurut penjelasan tegas Buya Yahya, "Tidak ada dua Witir dalam satu malam. Kalau ada dua Witir, tidak jadi Witir sebab ganjil dengan ganjil jadi genap."
Pernyataan ini menegaskan prinsip dasar bahwa dalam satu malam, salat Witir hanya boleh dilaksanakan satu kali saja, karena tujuan Witir adalah untuk menggenapkan jumlah rakaat salat malam dengan jumlah ganjil.
Lebih lanjut, Buya Yahya menyampaikan bahwa pelaksanaan salat Witir memiliki fleksibilitas waktu yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Beliau menjelaskan, "Melakukan salat Witir boleh milih, bisa dia awal waktu dan ini juga pernah dikerjakan nabi, dan juga boleh di akhir waktu dan juga pernah dikerjakan nabi."
Meskipun demikian, Buya Yahya menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW menghimbau agar Witir dijadikan sebagai penutup salat malam, sesuai dengan sabda beliau:
Baca Juga: Kado Terindah dari Presiden! THR Berupa BHR 2025 untuk Ojol dan Kurir Online, Segini Besarannya
'Ij'alu akhir shatikum baili witro' (Jadikanlah salat akhir malammu itu adalah Witir).
Buya Yahya dengan tegas membedakan antara imbauan dan kewajiban dengan menyatakan, "Hanya nabi menghimbau, bukan wajib. Tolong, ini kadang-kadang salah kalimat. Himbau dikatakan wajib. Dihimbau dan diharap, dianjurkan Witir itu dijadikan penutup salat."
Bagi yang sudah melaksanakan Witir di awal waktu setelah Tarawih, kemudian terbangun di malam hari dan ingin melaksanakan Tahajud, Buya Yahya menegaskan bahwa tidak perlu melaksanakan Witir lagi.
Beliau juga membantah anggapan yang salah dengan mengatakan, "Jangan seperti pemahaman sebagian orang, setelah witiran enggak boleh salat lagi. Tidak ada seperti itu."
Justru, seseorang tetap bisa dan dianjurkan untuk melaksanakan salat sebanyak-banyaknya setelah Witir.
Buya Yahya juga memberikan panduan praktis bagi mereka yang memiliki keinginan khusus dalam pelaksanaan ibadah malam di bulan Ramadan.
Baca Juga: Selisih Harga Rp1 Jutaan! Samsung Galaxy A36 5G Lebih Menguntungkan Dibanding Samsung Galaxy A56 5G?
Beliau menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan bagi orang yang ingin menjadikan Witir sebagai penutup salat malam:
1. Seseorang sengaja tidak melaksanakan Witir setelah Tarawih karena ingin melaksanakannya setelah Tahajud;
2. Seseorang ingin melaksanakan Witir lebih dari tiga rakaat.
Namun, Buya Yahya dengan bijak mengingatkan adanya potensi riya' (pamer) dalam pilihan tersebut dengan mengatakan, "Nanti kamu akan bisa masuk wilayah pamer juga nanti. 'Kenapa kamu tidak salat?' 'Nanti saya mau tahajudan dulu.' Kalau anda kuat hati anda enggak bakal riya', oke-oke saja."
Oleh karena itu, beliau menghimbau cara yang lebih moderat dengan menyatakan, "Himbauan sebaiknya salatlah bersama mereka (jamaah di masjid). Adapun nanti malam, salatlah tahajud sebanyak-banyaknya, salat malam sebanyak-banyaknya."
Bahkan bagi yang sudah terlanjur Witir dan ingin menyempurnakan hingga 11 rakaat, Buya Yahya menyarankan, "Tinggal saja anda ngerti hitungan, tentunya dari tiga menjadi 11. Bagaimana? Ditambah selebihnya tanpa harus mengulang witirnya, tanpa mengulang ganjilnya."
Kesimpulannya, Buya Yahya menegaskan bahwa bagi yang sudah melaksanakan Witir di awal waktu, tetap diperbolehkan melaksanakan salat-salat sunah lainnya di malam hari tanpa perlu mengulang Witir.***
Share this article
Buya Yahya menjawab pertanyaan jamaah mengenai posisi salat Witir dan salat Tahajud, terutama ketika seseorang telah melaksanakan salat Isya