AYOJAKARTA.COM -- Dengan telah berlalunya ibadah puasa di bulan ramadan, umat Islam memasuki bulan baru yakni Syawal.
Dalam proses pergantian bulan tersebut, tidak jarang umat Islam yang terpaksa meninggalkan jejak berupa hutang puasa di bulan ramadan.
Menggenapkan jumlah puasa yang gugur di bulan ramadan akibat sesuatu hal yang sesuai kaidah fiqih, merupakan sebuah kewajiban.
Baca Juga: Awas! Jangan Sampai Ada 2 Benda Ini di Rumahmu, Ustaz Adi Hidayat: Jadi Penghalang Rezeki!
Dan sebagaimana diketahui oleh umat Islam, pada bulan Syawal Baginda Rasulullah SAW juga menganjurkan melakukan ibadah puasa sebanyak 6 hari.
Sehubungan dengan adanya kewajiban menggenapkan jumlah puasa serta anjuran yang bersifat sunnah tersebut, pertanyaan kemudian muncul.
“Manakah yang lebih didahulukan, membayar hutang puasa ataukah menjalankan puasa sunnah sebanyak 6 hari?” demikian kalimat pertanyaannya.
Menyikapi pertanyaan semacam itu, Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah kajian sempat memberi tanggapan.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, terdapat dua pendapat ulama yang dapat dijadikan sebagai rujukan atas pertanyaan tersebut.
“Pendapat pertama yang sangat ketat, jika terjadi dua situasi antara kewajiban meng-qada dan menjalankan sunnah, pendapat pertama adalah mendahulukan yang wajib,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan alasan dibalik anjuran pendapat pertama yang memilih untuk mendahulukan yang sifatnya wajib.
“Karena wajib itu memiliki tatanan hukum yang berada diatas sunnah prioritas dan menjadi hutang yang harus dilunasi,” terang UAH.
Sebab sifat wajib memiliki aturan jelas yang apabila ditinggalkan akan mendapatkan dosa, sedangkan sunnah tidak.
“Didahulukan qadha-nya, baru kemudian selesai itu diteruskan dengan puasa sunnah-nya yang 6 hari di bulan Syawal,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Sementara untuk pendapat kedua, Ustaz Adi Hidayat memberikan pendapat ulama yang sifatnya agak longgar.
Menurut pendapat yang kedua, diperbolehkan seorang muslim untuk mendahulukan puasa 6 hari di Bulan Syawal.
Baca Juga: Dapat Pahala Puasa Syawal Meskipun Masih Punya Hutang Ramadan? Ini Kata Ustaz Adi Hidayat!
“Pendapat yang agak longgar, boleh mendahulukan puasa sunnah dulu hingga tuntas, baru kemudian menunaikan puasa yang qada,” jelas UAH.
Terkait dengan pertimbangan mendahulukan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal dan melanjutkan dengan meng-qada puasa ramadan, UAH memberi penjelasan.
Menurut UAH, penjelasan yang sudah tertulis di dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah 184 pada kata Ukhor memiliki dimensi atau rentang waktu yang luas.
“Pernah Syaidah Aisyah meng-qada puasa ramadan di Bulan Syaban, ketika akan bertemu dengan ramadan selanjutnya,” ujar UAH.
Dengan mengacu pada peristiwa tersebut, maka kemudian ulama kedua menjadikannya sebagai rujukan mengenai pelaksanaan waktu puasa sunnah dan puasa qadha ramadan.
Demikian seperti dikutip Ayojakarta pada Kamis, 27 April 2023 dari kanal Youtube Kajian Islam Official.***(Karseno AJ)

Share this article
Dalam proses pergantian bulan tersebut, tidak jarang umat Islam yang terpaksa meninggalkan jejak berupa hutang puasa di bulan ramadan.