AYOJAKARTA.COM – Dianggap sebagai salah satu malam keramat dan penuh misteri, malam 1 Suro mengundang rasa takut tersendiri bagi sebagian orang.
Minimnya pemahaman dan pengertian tentang makna dan nilai ajaran yang terkandung, menjadikan malam 1 Suro sebagai hal penuh mistis dan misterius.
Berdasarkan akar kata, Suro merupakan hasil serapan dari bahasa Arab 'Asyuro' yang berarti hari kesepuluh di bulan Muharram pada kalender Hijriah.
Mendekati waktu tersebut, masyarakat Jawa banyak yang menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan atau ritual pribadi yang bersifat kerohanian atau spiritual.
Baca Juga: 4 Larangan dan Mitos Malam 1 Suro, Dipercaya sebagai Bulan Arwah Leluhur Pulang ke Rumah?
Diulas kanal YouTube MoelTV pada 9 Agustus 2021, salah satu bentuk ritual yang dilakukan dalam menyambut datangnya malam1 Suro di kalangan masyarakat Jawa adalah meditasi, bertapa atau semedi.
Adapun perilaku atau tindakan fisik yang dilakukan menyambut 1 Suro adalah dengan berjalan mengelilingi atau ngidang di sekitaran keraton.
Selain dilakukan di keraton, ngidang juga dapat dilakukan di tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai khusus atau diutamakan.
Saat melakukan tindakan berupa meditasi atau berkeliling, setiap individu juga dianjurkan untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta atau Allah SWT.
Baca Juga: Benarkah Malam 1 Suro Berbahaya? Berikut 4 Pantangannya Bagi Masyarakat Jawa
Cara-cara yang dilakukan masyarakat Jawa juga beragam dan tidak dibatasi, bisa dalam bentuk dzikir atau wirid untuk proses pembersihan batin.
Langkah-langkah yang dilakukan secara pribadi atau berkelompok ini, dalam bahasa modern juga sering disebut dengan Kontemplasi atau Muhasabah.
Setelah menyadari letak kekeliruan pribadi, memahami kekurangan dan kesalahan sebagai manusia, perubahan perilaku perlu ditunjukkan secara nyata.
Bagi masyarakat Jawa yang menganut filosofi keterikatan dan menjunjung rasa penghormatan pada leluhur, dilakukanlah ritual yang bersifat sosial.
Salah satu tindakan yang biasa dilakukan masyarakat Jawa sebagai buah dari kesadaran batiniahnya adalah dengan membersihkan atau menempatkan ulang warisan leluhur.
Ritual mencuci atau membersihkan benda-benda peninggalan orang tua atau benda pusaka kemudian dijadikan perilaku atau disebut Jamasan.
Jamasan bagi orang Jawa memiliki makna sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan dan ajaran leluhur, serta menjaga kebersihan ajaran atau paham.
Dengan bersikap setia menjaga benda pusaka atau warisan orang tua, maka energi cinta dan rasa memiliki antara leluhur dengan keturunannya tetap lestari.
Baca Juga: 4 Weton yang Akan Beruntung di Bulan Suro, Kedatangan Rezeki Berlimpah
Syarat hadir dan tumbuhnya perasaan mencintai dan menghargai, menurut budaya Jawa harus dilahirkan dari dalam diri masing-masing pribadi.
Bagi masyarakat awam, menyambut datangnya malam 1 Suro bisa dilakukan dengan banyak berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih.
Luangkan waktu untuk melakukan kontemplasi dan menggali kedalam diri, sebagai bekal bertemu dengan Tuhan Yang Maha Kekal.***

Share this article
Dianggap sebagai salah satu malam keramat dan penuh misteri, malam 1 Suro mengundang rasa takut tersendiri bagi sebagian orang.