AYOJAKARTA.COM - Mendengar nama KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, ingatan seseorang akan cenderung tertuju pada hal-hal baik.
Mbah Moen yang merupakan putra pertama dari pasangan Kyai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah memang dikenal sosok yang alim, kharismatik, serta humoris.
Meski dikagumi dari berbagai kalangan dan pembesar negara, Mbah Moen tetap memilih hidup bersahaja dengan menyeimbangkan antara ketegasan dan kasih sayang.
Baca Juga: Simak! Berikut Nasihat Mbah Moen Agar Hidup Bahagia Dunia Akhirat
Salah satu guru KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha ini memiliki tanggal lahir yang sama persis dengan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.
Mbah Moen yang juga diakui sebagai wali wafat tanggal 6 Agustus 2019 saat menunaikan ibadah haji dalam usia 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Ma’la, Makah.
Dikutip Ayojakarta.com dari kanal Youtube Santri Tepian Kapuas pada Kamis 3 November 2022, Gus Baha menceritakan sisi humoris dari Mbah Moen, gurunya.
Baca Juga: Rahasia Mbah Moen Agar Sukses Dunia Akhirat, Lakukan Amalan Ini dengan Sungguh-sungguh!
Suatu ketika, Mbah Moen dan Gus Baha mengadakan perjalanan bersama sejumlah rombongan ziarah menuju makam Wali Songo.
Di jalan menanjak yang curam, bus yang mereka tumpangi mengalami kendala sehingga menyebabkan terhenti di tengah-tengah tanjakan.
Mbah Moen yang terpelajar kuatir jika rem tangan bus tidak berfungsi, maka akan menyebabkan bus berjalan mundur tak terkendali, kecelakaan sangat mungkin terjadi.
Baca Juga: Mbah Moen Ungkap Sosok Guru Dibalik Kecerdasan yang Dimiliki Siti Khadijah
Tapi para peziarah yang sebagian besar berisi orang-orang desa dan kurang mengerti hukum fisika, justru bersikap tenang dan santai, bahkan ada yang sambil kulineran.
Melihat fenomena itu, Mbah Moen kemudian bertanya kepada peziarah, “Kenapa kalian bisa tenang, bagaimana jika bus yang kita tumpangi ini tergelincir?”
“Nggak tahu Mbah kenapa kami bisa tenang, itu sudah jadi tugas Pak Supir, Mbah,” jawab peziarah masih dengan sikap santai dan tenang.
Mbah Moen kemudian merenungi jawaban asal para peziarah, ia menyampaikan pernyataan kepada Gus Baha, “Enak sekali jadi orang bodoh, Ha,” katanya.
Gus Baha yang merupakan murid sekaligus penerusnya, menyadari bahwa maksud ucapan Mbah Moen bukan bodoh dalam pengertian akademis maupun keilmuan.
Melainkan bodoh dalam pemahaman yang berakar dari sifat cinta akan nilai ketuhanan, kesadaran bertauhid yang tidak berusaha ikut mengatur segala sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan.
Baca Juga: Ijazah Mbah Moen Agar Mendapat Rezeki yang Lancar dan Barokah, Amalkan Setiap Hari!
“Kita harus terima qada dan qadar, pokoknya hidup di dunia itu harus bahagia, kalau belum bisa, ya dipaksa bisa,” jelas Gus Baha, seraya menerjemahkan maksud dari rasa iri Mbah Moen kepada orang bodoh.
“Karena kalau terus menerus sedih dan tidak bahagia, lambat laun kita akan menjadi orang yang tidak ridha dengan ketentuan Tuhan, yakinlah bahwa segala yang ditetapkan Tuhan pasti lebih baik dari bayangan manusia.” tutup Gus Baha, murid Mbah Moen. ***

Share this article
Ternyata Mbah Moen pernah iri dengan orang yang bodoh, bukan dalam akademis melainkan soal pemahaman.