AYOJAKARTA.COM - Bulan Rajab merupakan salah satu bulan dalam kalender Islam (Hijriyah) yang diakui sebagai bulan yamg bail untuk melakukan ibadah sunnah dan berdua.
Bulan Rajab juga dianggap sebagai bulan yang istimewa karena diyakini sebagai bulan dimana para malaikat turun ke bumi dan perintah Allah diterima oleh para Nabi.
Dalam ceramah Ustad Abdul Somad, bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam.
Baca Juga: Tegas! Kesempatan Terakhir, Arman Hanis Tolak Habis Seluruh Replik Dari JPU: Kami Minta Putusan Adil
Selain itu, menurut Ustad Abdul Somad bulan Rajab juga dianggap sebagai penyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
UAS juga menyampaikan kepada umat muslim untuk meningkatkan amalan-amalan sunah selama Rajab.
Namun amalan-amalan sunah pada bulan Rajab tersebut tidak perlu dikhususkan.
Penjelasan pria yang akrab disapa UAS tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
“Sesungguhnya zaman ini telah berjalan, sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun ada 12 bulan. Di antaranya, ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulkaidah, Dzulhijah, dan Muharam. Lalu, Rajab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Syaban.”
Alquran telah mengisyaratkan bulan-bulan istimewa itu. Dalam Surat at-Taubah ayat ke-36 menegaskan,
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram."
"Rajab salah satu bulan mulia yang (jumlahnya) ada empat," jelas Ustad Abdul Somad dikutip AyoJakarta melalui laman Republika.co.id yang tayang pada Jumat (08/03/2019).
UAS menjelaskan, Rajab secara bahasa berarti ‘menghormati.’ Tidak hanya pada era Islam. Pada masa jahiliyah pun, penduduk Arab begitu menghormati Rajab, dengan berbagai ritual seperti menyembelih anak unta pertama yang lahir dari induknya.
Selama bulan Rajab, perang dilarang. Pintu Ka’bah pun mulai dibuka.
Bulan ketujuh dari penanggalan Hijriah itu mengandung banyak peristiwa bersejarah.
Seperti peristiwa Isra Mi'raj Nabi SAW, yang melalui itu turun perintah bagi umat Islam untuk melaksanakan shalat wajib lima waktu.
Perang Tabuk juga berlangsung pada Rajab tahun kesembilan Hijriah. Selain itu, pembebasan Masjid al-Aqsha oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi juga terjadi pada bulan Rajab, tepatnya 27 Rajab 583.
Masih tentang keutamaan Rajab. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah yang agung. Kemuliaan dan keutamaannya tidak tersaingi bulan-bulan lainnya. Di bulan ini, diharamkan berperang dengan orang-orang kafir. Adapun Sya'ban itu adalah bulanku. Sedangkan, Ramadhan adalah bulan umatku.
Maka barangsiapa berpuasa sehari saja di bulan Rajab, maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah yang sangat besar dan jauh dari kemurkaan-Nya serta tertutup baginya salah satu pintu neraka."
Lanjut UAS, bulan Rajab juga dianggap sebagai penyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Bagikan Amalan Jika Ingin Mendapatkan Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Hidup
"Inilah (awal) persiapan menyambut Ramadan selama 60 hari ke depan," ujarnya.
Oleh sebab itu, barangsiapa yang belum melunasi utang-utang puasa Ramadhan, hendaknya segera melunasinya.
Pada hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, "Bulan Rajab dijuluki al-Ashab ('pelimpahan') karena pada bulan ini rahmat Allah dilimpahkan kepada umatku."
Menurut UAS, amalan-amalan sunah hendaknya ditingkatkan selama Rajab, namun amalan tersebut tidak perlu dikhususkan dan sama sebagaimana bulan-bulan lainnya.
Karena Rasulullah SAW sendiri tidak mengkhususkan amalan-amalan tertentu.
"Amalannya tidak diatur Nabi SAW. Bebas saja. Puasa, zikir, membaca Alquran, sedekah, dan lain-lain," ucap UAS.***

Share this article
UAS juga menyampaikan kepada umat muslim untuk meningkatkan amalan-amalan sunah selama Rajab, sebagai penyambut datangnya bulan Ramadhan