AYOJAKARTA.COM – Bagi sebagian masyarakat Indonesia, Kerupuk bukan hanya menjadi kuliner pelengkap tetapi sudah menjadi bagian dari menu wajib saat makan.
Memiliki berbagai jenis nama atau sebutan, aroma dan rasa serta bahan dasar pengolahan, Kerupuk oleh masyarakat Nusantara bahkan sering dijadikan sebagai cemilan.
Adanya peralihan fungsi atau peruntukkan dari menu pelengkap makan hingga menjadi cemilan, bagi Pegiat Bahasa istilah Kerupuk dipercaya memiliki korelasi dengan kata Keripik.
Kerupuk Opak ataupun Gaplek yang berbahan dasar Singkong, mengalami perubahan penyebutan menjadi Keripik setelah diolah menjadi Kecimpring atau Keripik Singkong.
Meski pemanfaatan kerupuk ataupun keripik bersifat individual, panganan khas Indonesia ini menyimpan sejumlah fakta yang berhubungan erat dengan kesehatan.
Menurut DR. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK selaku Ahli Spesialis Gizi Klinik, dalam jumlah banyak makanan olahan ini dapat menyebabkan terjadinya peradangan di tenggorokan.
Selain bersifat kering, penyebab kerupuk dapat menyebabkan terjadinya peradangan adalah karena proses memasaknya yang menggunakan minyak.
Baca Juga: BTN Jakarta International Marathon 2025 Siap Digelar, Ini Rute Lengkap & Rekayasa Lalu Lintas
Meski dapat mengakibatkan terjadinya peradangan, dr. Samuel juga memastikan bahwa kerupuk memiliki sifat cepat menjadi penyebab timbulnya rasa kenyang.
Terbuat dari campuran tepung serta aneka jenis perasa makanan untuk menghasilkan aroma tertentu, kerupuk akan lebih mudah membuat kenyang.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan banyak Ahli Gizi, rasa kenyang akibat mengkonsumsi sebanyak lima keping Kerupuk Udang setara dengan satu piring makan.
Meski berguna untuk sekedar memenuhi perut, kandungan gizi pada kerupuk menurut dr. Samuel cenderung tidak terlalu dibutuhkan oleh tubuh.
Baca Juga: Siap-Siap Tes SPMB Kota Bandung 2025, Ini Tutorial Lengkap Aplikasi Tes Terstandar Jalur Prestasi
Karena itu, bagi para orang yang sedang menjalani program diet mengkonsumsi kerupuk justru akan menimbulkan banyak persoalan kesehatan.
Fakta lain yang tersembunyi dibalik kebiasaan mengkonsumsi kuliner khas Nusantara ini secara berlebihan adalah meningkatkan resiko gangguan hipertensi.
Proses memasak yang dilakukan dengan menggunakan minyak trans atau kotor, dapat meningkatkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah.
Menjadi pilihan kuliner banyak orang karena memiliki rasa yang cenderung gurih, fakta lain mengenai kerupuk adalah mengandung banyak Natrium serta MSG.
Baca Juga: Info SPMB Jatim 2025 Tahap 3, Ini Cara Cek Status CMB Lolos Jalur Domisili Reguler atau Sebaran
Karena itu, cara terbaik untuk tetap dapat menikmati kerupuk adalah dengan cara mengetahui kondisi kesehatan diri dan membatasi asupan.
Guna memperkecil potensi tersebut, pastikan kerupuk mentah yang akan diolah diproses dengan menggunakan minyak baru atau rendah kolesterol.
Selain untuk memastikan kualitas rasa, mengolah kerupuk secara mandiri juga dapat menghindari resiko kanker yang diakibatkan karena pencampuran lilin saat memasak. ***

Share this article
Kerupuk jadi cemilan favorit, tapi konsumsi berlebihan picu peradangan, hipertensi, dan risiko kesehatan jika dimasak dengan minyak buruk.