AYOJAKARTA.COM -- Ngabuburit atau kegiatan menunggu waktu buka sambil berburu takjil merupakan tradisi yang lazim dilakukan masyarakat Indonesia setiap bulan Ramadhan.
Selain berburu aneka jenis takjil untuk buka, tradisi Ngabuburit Ramadhan juga dapat diisi dengan kegiatan positif lain seperti mengikuti kajian ruhani atau berolahraga ringan.
Meski terdapat banyak pilihan kegiatan, bagi kebanyakan masyarakat Indonesia Ngabuburit di bulan Ramadhan lebih banyak diisi dengan mencari takjil.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Jakarta saat Ramadhan, dari Benhil hingga Masjid Istiqlal
Di samping untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang terpakai selama seharian beraktivitas, takjil juga diburu karena dapat menambah semangat saat berbuka puasa.
Karena alasan tersebut, beberapa aneka jenis penganan takjil selalu menjadi menu paling diidamkan dan dianggap favorit saat berbuka sehingga habis diburu masyarakat.
Untuk memperkaya khasanah, berikut adalah makna tersembunyi dari menu takjil Kolak yang paling banyak dicari oleh masyarakat Indonesia untuk teman berbuka puasa.
Baca Juga: Ide Jualan Takjil Modal Sedikit, Resep Sempol Mie: dari 1 Bungkus Mie Bisa Untung Banyak
Menurut Fadli Rahman, seorang Sejarawan dan Penulis Buku Jejak Rasa Nusantara; Kolak berasal dari kata Khalik yang berarti Sang Pencipta.
Terbuat dari berbagai opsi bahan dasar yang dicampur dengan gula aren, santan serta daun pandan, hidangan kolak dengan dominasi rasa manis dapat dikonsumsi panas atau dingin.
Adapun materi atau bahan dasar pembuat kolak umumnya terdiri dari Pisang Kepok, Telo Pendem atau Ubi, Santan, serta Pandan.
Baca Juga: Ide Jualan Takjil, Resep Es Blewah Aceh: Rasanya yang Segar Cocok Buat Buka Puasa
Meski banyak dikonsumsi, tidak banyak pecinta kuliner yang menyadari bahwa Kolak pada era Mataram merupakan salah satu bentuk sarana peribadatan dan berdakwah.
Pisang Kepok merupakan akronim dari kata Kapok dalam bahasa Jawa yang berarti Jera atau dalam pendekatan bahasa semiotik berarti Pertaubatan.
Bahan dasar selanjutnya adalah Telo Pendem atau Ubi, merupakan semiotik dari mengubur atau pendem setiap kesalahan diri untuk melanjutkan hidup menjadi lebih baik.
Bahan pokok selanjutnya yang terdapat dalam Kolak adalah Santan atau merupakan kependekan dari Pangapunten, berarti meminta maaf.
Bahan pembuat kolak selanjutnya yang tidak kalah penting adalah Pandan atau tanaman dengan aroma dan wewangian khas.
Baca Juga: Tanpa Pengawet! Menu Takjil Buka Puasa Es Krim Pisang Saus Coklat, Super Segar dan Nikmat!
Mengkonsumsi Kolak, bagi masyarakat tradisional yang sangat kaya dengan ajaran dan nilai sufistik, spiritual dan intelektual memiliki makna Menuju Perbaikan Diri.
Dengan mengkonsumsi kolak yang rasanya manis, seseorang secara tidak langsung sedang diajarkan untuk membiasakan diri memanusiakan manusia.
Karena terdapat kesalahan, seseorang diingatkan untuk mengakui kesalahan dan merasa jera, kemudian meminta maaf dan mulai menjalin ulang hubungan agar jadi lebih baik.
Baca Juga: Coba Buat Yuk! Dessert Tart Mangga Lapis yang Cocok Buat Menu Takjil di Bulan Puasa
Hasil dari timbulnya kesadaran akan Kolak tersebut, maka kualitas hubungan interpersonal dan relasi antara komunal akan lebih manis, kekal serta harum mewangi.***

Share this article
Ngabuburit atau kegiatan menunggu waktu buka sambil berburu takjil merupakan tradisi masyarakat Indonesia setiap bulan Ramadhan.