AYOJAKARTA.COM – Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, kedatangan bulan Rajab jelas menjadi hal yang sangat dinantikan.
Bulan Rajab yang berada di urutan ketujuh dalam kalender hijriah ini diyakini oleh umat muslim sebagai ajang untuk menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Sebagai salah satu bulan istimewa dan penuh kemuliaan, bulan Rajab juga mendapat perhatian secara kultural.
Jika di masyarakat suku Jawa dikenal istilah Uri-uri atau gelaran tumpeng, maka bagi masyarakat pesisir Aceh dikenal istilah Tet Apam.
Dilansir dari halaman Atjeh Watch, Tarmizi A. Hamid yang merupakan budayawan dan kolektor manuskrip Aceh menjelaskan tentang tradisi Tet Apam.
“Tradisi Tet Apam dilakukan turun temurun di Aceh, biasa di bulan Rajab dan memiliki makna tersendiri,” jelas Tarmizi.
Tradisi Tet Apam yang sudah menjadi budaya turun temurun ini, memiliki nilai filosofis yang mendalam jika dilihat dari perspektif agama dan sosial budaya.
Tet Apam atau kenduri apam merupakan pengejawantahan atas rasa syukur dan nikmat pemberian Allah SWT selama setahun terakhir.
Baca Juga: Keluarga Yosua Tak Terima Permintaan Maaf Putri Candrawathi, Ahli Gestur Ungkap Ekspresi Datar PC
Selain itu, Tet Apam adalah tradisi sebagai persiapan dalam menyambut datangnya bulan Ramadan yang diisi dengan pemenuhan nutrisi sejak bulan Rajab serta Sya’ban.
Kebersamaan yang terjalin antara satu dengan yang lain dari mulai perencanaan, proses memasak, hingga penyajian Tet Apam adalah merupakan nilai keagamaan.
Tet Apam yang menjadi tradisi peunajoh atau kuliner tahunan di bulan Rajab memiliki nilai semangat serta identitas bangsa.
Memandu generasi penerus untuk menghasilkan Apam yang baik serta lezat untuk dinikmati bersama-sama, menjadi bukti adanya nilai pendidikan dalam tradisi ini.
Meski tidak mustahil untuk dimasak dengan cara dan perlengkapan masak modern, namun tradisi pembuatan Tet Apam lebih diutamakan menggunakan perkakas lawas.
Hal tersebut memiliki nilai sebagai bentuk mempertahankan tradisi, adat dan kebiasaan yang bersifat warisan turun-temurun.
Menurut Tarmizi yang akrab disapa Cekmidi, pada awalnya Tet Apam dilakukan sebagai bentuk silaturahmi antar warga dan kampung.
Baca Juga: Ingin Tahu Dosa Sudah Diampuni atau Belum? Ustadz Adi Hidayat Ungkap Ciri-cirinya Berikut Ini
Namun seiring waktu, tradisi Tet Apam ini semakin meluas hingga kemudian menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh.
“Jika ada pria di suatu desa yang jarang ke masjid atau berbaur, maka mereka didenda dengan cara Tet Apam,” jelas Cekmidi.
Pria tersebut kemudian menyelenggarakan acara Tet Apam untuk kemudian dijadikan oleh warga lain sebagai ajang untuk berbaur atau bersosialisasi. ***

Share this article
Di bulan Rajab setiap daerah biasanya meiliki makanan khas tak erkecuali di Aceh. Tat Apam makanan khas di Bulan Rajab