AYOJAKARTA.COM - Rasa malu sering dipandang negatif dalam masyarakat kita saat ini, tetapi mengalaminya dalam moderasi (sedang) sebenarnya bisa bermanfaat.
Dikutip dari Psychology Today, Dylan Selterman Ph.D., mengingat pengalaman masa kecilnya, ketika bersikap kurang sportif.
Hal yang menyebabkannya perasaan malu sekaligus memotivasi diri untuk berubah dan menjadi orang yang lebih baik.
Baca Juga: Ilmu Psikologi: Jangan Malu Terlihat Miskin dan Tampil Sederhana, Begini Alasannya...
Meskipun banyak yang menghindari rasa malu karena tidak nyaman, emosi ini dapat memainkan peran penting dalam pertumbuhan pribadi.
Rasa malu membantu kita mengenali kesalahan dan mendorong perubahan positif terhadap perilaku kedepannya.
Namun, rasa malu yang kronis—merasa malu tanpa alasan—dapat berbahaya, sayangnya hal ini belum banyak disadari!
Baca Juga: 5 Tips Psikologi untuk Atasi Rasa Malu, Melakukan Basa-basi Salah Satunya
Menyeimbangkan Rasa Malu untuk Pertumbuhan Pribadi
Seperti kecemasan atau kemarahan, rasa malu paling bermanfaat ketika dirasakan dalam ukuran sedang.
Ketika muncul dari kesalahan yang nyata, rasa malu dapat membimbing kita menuju perbaikan perilaku.
Edukasi Psikologi populer sering mempromosikan gagasan untuk menghilangkan rasa malu, tetapi ini mengabaikan manfaat potensialnya.
Sebaliknya, kita harus mencari tingkat rasa malu yang sehat yang mendorong pertumbuhan tanpa membebani kita.
Penting untuk diingat bahwa sebagian besar orang tidak berfokus pada setiap perilaku kita, yang dapat membantu mengurangi perasaan malu.
Kesimpulannya, meskipun rasa malu bisa menyakitkan, rasa malu juga dapat mendorong perkembangan pribadi ketika dialami dengan tepat.
Memiliki emosi ini dalam ukuran yang sedang dapat menyebabkan perubahan dan pertumbuhan positif, menjadikannya bagian berharga dari sederet emosi lainnya.***

Share this article
Seberapa ukuran rasa malu yang dianggap baik, berikut dijelaskan berdasarkan edukasi psikologi yang patut menjadi rujukan